Monday, 20 April, 2026

Butuh Operasi Khusus Membersihkan Ranjau di Perairan Pantai Amal

TARAKAN – Baru menjabat sebagai Komandan Satuan Patroli (Dansatrol) Lantamal XIII Tarakan pada 12 Juli lalu. Kolonel Laut (P) Yulius Azz Zaenal seriusi permasalahan ranjau di perairan Pantai Amal.

Pasalnya, di perairan tersebut masih ada akitivitas speedboat maupun petani rumput laut. “Dalam peta laut, wilayah itu sudah ditandai terdapat ranjau berbahaya. Alur pelayaran di wilayah itu pun diskemakan memutar. Itu (ranjau) bisa dibersihkan, ada operasi untuk membersihkan ranjau, nanti mungkin pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut,” tuturnya, Senin (25/7).

Ia menjelaskan, banyaknya ranjau belum diketahui jumlahnya. Untuk mengetahui hal tersebut, maka dibutuhkan operasi khusus. Menurutnya, ranjau merupakan mitigasi peperangan yang sudah dirancang Jepang. Dalam melawan sekutu pada masa perang dunia.

“Banyak (ranjau) di sana, karena Tarakan termasuk daerah tujuan untuk SDA (Sumber Daya Alam), untuk keperluan perangnya ini. Ini jadi PR (pekerjaan rumah) bagi kami. Kami akan terus komunikasi dalam hal membersihkan ranjau ke Pemerintah Provinsi (Kaltara),” ungkapnya.

Menurutnya, jenis ranjau di perairan itu berbeda-beda. Untuk letaknya, terdapat ranjau yang di pasang melayang dan di dasar laut yang berada pada radius 15 ml dari garis pantai. Disinggung soal aktif tidaknya ranjau tersebut, pihaknya tetap mengacu kepada peta navigasi. Yang sudah digariskan, bahwa wilayah tersebut memang terdapat ranjau.

“Peta kan sifatnya internasional, ketentuannya berlaku internasional juga. Tentu masih aktif (ranjaunya). Bisa dinyatakan clear kalau sudah dibersihkan. Kalau untuk membersihkannya sebenarnya pengajuannya ke markas besar (Mabes) Angkatan Laut,” ujarnya.

Terkait anggaran membersihkan ranjau juga akan diperhitungkan dengan membutuhkan alutsista. Bahkan membersihkan ranjau bisa membutuhkan waktu sekitar 50 hari. Pihaknya mengimbau kepada petani rumput laut, agar tidak beraktivitas di wilayah itu. Terutama dalam memberikan tanda atau patok untuk menjemur rumput laut.

“Kami waspada juga, memang selama ini tidak ada apa-apa. Tapi, kalau ada apa-apa nanti siapa yang tanggungjawab. Mengingat luas di perairan Tarakan dari ujung utara sampai ke timur sekitar 15 ml. Kapal-kapal sudah diatur agar tidak melintasi,” harapnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru