Udeng menjadi aksesori khas Suroboyoan tempo dulu. Bentuknya berupa lembaran kain yang dililitkan di atas kepala. Demi menjangkau pemakai yang lebih luas, terutama di kalangan muda-mudi, kolaborasi pun digagas.
NURUL KOMARIYAH, Surabaya
SEBAGAI pelopor atau pencetus genre khazanah kreasi baru udeng Suroboyo nonpakem, Tommy Priyo Pratomo mengkreasikan udeng. Harapannya, udeng bisa dipakai dan mewarnai keseharian kehidupan. Maka, dia pun mendesain udeng menjadi penutup kepala yang lebih kasual. Sehingga mudah dipadupadankan dengan outfit sehari-hari dalam kesempatan apa pun. Bahan yang digunakan cukup variatif.
Mulai denim, flanel, toyobo, hingga kain batik. Saat ini Tommy juga gencar melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Beberapa waktu lalu, dia berkolaborasi bareng komunitas perupa cat air dan akrilik dalam kegiatan melukis di atas lembaran kain udeng.
Para perupa melukis udeng dengan membawa aliran masing-masing sesuai dengan ciri khasnya. Tentu saja, itu merupakan hal baru untuk mereka.
“Saat itu betul-betul di luar ekspektasi saya karena diapresiasi positif oleh teman-teman. Semua perupa menggunakan ciri khasnya sebagai seniman. Banyak ragam yang menarik dari lukisan mereka di kain udeng,” ungkapnya.
Sebelumnya, Tommy berkolaborasi dengan musisi indie di Surabaya. Saat manggung, anggota band indie tersebut mengenakan udeng buatannya. Tidak berhenti di situ. Ide kolaborasi juga melebar hingga melakukan sesi foto bersama fotografer. Juga menggandeng penari dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW).
“Ke depan yang sedang dipersiapkan adalah kolaborasi bareng Serikat Mural Surabaya,” imbuh lelaki 48 tahun itu.
Kolaborasi disebutnya sebagai upaya untuk menggapai tujuan. Dia ingin menaikkan image sekaligus value udeng. Yang sebelumnya lekat dengan anggapan kuno, jadul, malu-maluin, hingga identik dengan budaya Kejawen, bahkan mistis.
Di tangan Tommy, udeng berubah menjadi aksesori yang fashionable. Bisa dipadukan bersama kaus, jins, dan sneaker. “Saya ingin udeng itu dipakai terutama oleh anak muda dengan penuh kesadaran dan kebanggaan. Sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus identitas khas Surabaya,” terang dia.
Menurut dia, negara lain bisa mempertahankan warisan budaya lewat cara yang kekinian. Contohnya, Jepang dengan pakaian kimono yang sebetulnya punya pakem berlapis dan cukup berat. Lantas, mampu bertransformasi menjadi ikon fashion dunia.
“Banyak desainer kelas dunia yang menggunakan inspirasi kimono sebagai pakaian masa kini sehari-hari. Kami juga pasti bisa karena Surabaya pun punya warisan yang tidak kalah bagus,” tegasnya.
Meski berkonsep udeng modern, Tommy tetap mempertahankan nilai filosofis pada masing-masing lipatannya. Metamorfosis ayam sawunggaling sebagai karakter khas Suroboyoan yang sarat doa juga tecermin pada udeng buatannya. Lipatan yang terselip di bagian kanan dan kiri merupakan simbol sayap sekaligus bermakna keadilan.
Sementara itu, dua ikatan di bagian depan kepala adalah simbol paruh yang menggambarkan intelektualitas sekaligus ikatan terhadap Sang Pencipta. Bentuk segi tiga di bagian belakang tidak lain adalah jalu atau taji ayam yang bermakna naiknya derajat si pemakai.
Pendeknya, setiap lipatan udeng menggambarkan bagian-bagian dari ayam sawunggaling. “Itu merupakan hewan teritori yang menguasai wilayahnya. Karakternya sangat khas Suroboyoan. Saat punya keinginan tertentu, pasti berusaha keras sampai terwujud,” tegasnya. (*/c6/git/jpg)


