Wednesday, 24 June, 2026

Cerita Hans Sebastian, Penerima Beasiswa dari Schwarzman Scholars

Hans Sebastian Mulyawan tak menyangka bakal lolos sebagai penerima beasiswa dari Schwarzman Scholars yang didirikan salah satu orang terkaya di dunia, Stephen A. Schwarzman. Selama setahun dia bakal menimba ilmu di Universitas Tsinghua, Beijing, Tiongkok, untuk mendapat gelar master bersama ratusan penerima beasiswa dari berbagai negara.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

BERAWAL dari iklan di YouTube. Hans Sebastian Mulyawan mengenal beasiswa dari Schwarzman Scholars. Dia pun penasaran dan mencari informasi serta riset tentang scholarship tersebut. Penelusuran dari Google kian membuatnya tertantang. Sebab, beasiswa itu sangat bergengsi.

Tanpa pikir panjang. Hans langsung apply sebagai penerima beasiswa dengan mengunggah berkas persyaratan. September, dia mendapat kabar baik. Seleksi awal dinyatakan lolos. Oktober, dia ke tahap wawancara.

Menurut Hans, saingannya saat seleksi cukup berat. Dia sempat sedikit minder. Maklum, banyak calon penerimanya yang menjadi staf ahli di pemerintahan. “Saya tahu karena sebelum interview semuanya dikumpulin,” ucapnya saat dihubungi Kamis (8/12) pekan lalu.

Namun, putra pertama pasangan Arifin Mulyawan dan Selia Widjaja itu tak berkecil hati. Dalam benaknya, mereka sama-sama memiliki penghargaan. Beasiswa dari Schwarzman Scholar memang tidak hanya untuk mereka yang pandai. Tapi, juga bagi mereka yang berjiwa kepemimpinan. Itu dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang diraih.

Selain saingan yang berpotensi, tim pewawancara juga tak main-main. Ada tujuh orang sekaligus. Salah satunya, mantan Dubes Selandia Baru untuk Indonesia Jonathan Austin.

November menjadi bulan yang akan selalu diingat Hans. Laki-laki 22 tahun itu dinyatakan lulus mendapat beasiswa dari Schwarzman Scholars. Tahun ini ada 3 ribu pendaftar dan yang diterima hanya 150 orang. Hans menjadi satu-satunya kandidat dari Indonesia.

Beasiswa yang diraih Hans cukup unik. Peserta tidak bisa memilih jurusan. Hanya satu jurusan yang ditawarkan bagi penerima beasiswa. Yakni, Master’s Program in Global Affairs. Waktu studi pun hanya setahun. “Jika gagal lulus, harus mengganti biaya selama setahun tersebut,” ujar mantan anggota orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) 2015 itu.

Menurut Hans, tahun ini seleksi penerima beasiswa diikuti 70 negara. Setiap tahun kuota penerimanya sama. Yakni, 40 persen penerima dari Amerika, 20 persen dari mahasiswa Tiongkok, dan sisanya (40 persen) dari berbagai belahan dunia. Program tersebut sudah berlangsung delapan kali. Hans menjadi orang Indonesia keempat yang mendapat beasiswa itu.

Asrama dan fasilitas lain telah disiapkan bagi penerima beasiswa. Termasuk tiket pesawat saat pulang liburan ke negara asal. Tapi, Hans berencana tidak mengambil libur. Dia tidak ingin melewatkan pengalaman di sana. Sebab, akan banyak akses yang bisa didapat dari studi tersebut. Apalagi, dia akan tinggal dengan 150 mahasiswa andal dari berbagai dunia.

Dia menuturkan, penerima beasiswa dicetak untuk menjadi pemimpin. Karena itu, program master tersebut wajib ditempuh dan harus lulus dalam waktu setahun. Program itu sengaja dibuat singkat dengan harapan para penerima bisa segara balik ke negaranya. Kemudian, menjadi pemimpin dan memberi dampak luas bagi sesama.

Hans saat ini masih berstatus mahasiswa di National University of Singapore. Mei 2023 baru lulus. Kemudian, Agustus masuk ke program beasiswa dari Schwarzman Scholars. Ada banyak misi yang akan dibawa. Salah satunya, mengenalkan karakter dan budaya Indonesia.

Menurut dia, ada kesempatan besar untuk mengenalkan Indonesia. Apalagi, penerima beasiswa itu akan dicetak menjadi pemimpin. Tidak sedikit juga alumni yang menjadi staf ahli pemerintah. Diskusi dan tukar pendapat tentu banyak terjadi. “Dari sini, kita kenalkan karakter bangsa kita,” ucap sulung di antara tiga bersaudara itu.

Hans mengungkapkan, Indonesia adalah negara penuh toleransi. Sikap tersebut yang nanti menjadi misinya. Termasuk saat berdiskusi di kampus. Mendengarkan pendapat semua pihak akan dia terapkan. Termasuk soal keramahan khas orang Timur.

Tak hanya itu, mencari jaringan juga bakal dilakukan. Keinginan besar Hans adalah mengenalkan potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia kepada peserta lainnya. Di Indonesia banyak orang pandai. Hanya, banyak juga yang belum beruntung mendapat kesempatan dengan baik. “Semoga melalui (beasiswa) ini dapat terwujud,” ucap ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Singapura itu. (*/c6/may/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru