Friday, 24 April, 2026

Drumer Dara Puspita Susy Nander Full Power di Usia 75 Tahun

Band rock n roll legendaris asal Surabaya yang seluruh personelnya perempuan, Dara Puspita, mengejutkan penggemarnya ketika manggung lagi setelah 50 tahun berpisah. Susy Nander –sang drumer– hampir tidak menyangka bisa reuni di atas panggung dengan formasi lengkap. Di usia yang sudah kepala tujuh, power-nya masih sama.

MOMEN bersejarah itu terwujud di panggung Synchronize Fest Oktober 2022 di Kemayoran, Jakarta. Titik Hamzah, Lies A.R., Titiek A.R., dan Susy Nander menghadirkan nostalgia dengan grup yang berjaya pada 1960-an tersebut. Susy menuturkan, tawaran manggung lagi bersama Dara Puspita tidak terbayangkan sebelumnya.

“Sueneng banget. Saya dalam hati tidak terpikir kok bisa terjadi. Padahal, sudah 50 tahun. Kalau sudah begini, penginnya main (ngeband) terus,” ungkap Susy saat ditemui di kediamannya di Sidoarjo pada Rabu (8/2) lalu.

Sebulan sebelum konser, Titiek A.R. dan Lies A.R. tiba di Indonesia dari Belanda. Bersama Susy, ketiganya rutin berlatih setiap hari di Mojokerto. Tak sedikit yang mengkhawatirkan Susy. Sebab, menabuh drum membutuhkan tenaga ekstra.

Namun, bagi Susy, tidak ada bedanya main musik dulu dan sekarang. “Kalau sudah berlatih itu tidak terasa. Musik kan tidak melihat umur. Mainnya harus tetap total. Tenaga itu otomatis datang karena semangat dan bahagia,” ujar perempuan 75 tahun tersebut.

Susy menceritakan masa-masa awal terjun ke musik. Dia mengatakan, di antara keluarganya tidak ada yang bermusik. Susy belajar drum secara otodidak. Dia bahkan mengaku tidak paham not balok. Tidak pernah tebersit untuk menjadi pemain drum. Semuanya berjalan spontan.

“Tahun 1960-an itu Titiek A.R. ngajak bikin grup musik, coba-coba. Kami mulai latihan. Saya diminta berlatih drum, padahal ndak pernah pegang drum. Kalau kata orang Jawa bonek, bondo nekat saja. Pertama sulit sekali, lama-lama terbiasa,” ceritanya.

Saat itu namanya belum Dara Puspita, tapi Irama Puspita. Dengan formasi Titiek A.R. (gitar melodi), Lies A.R. (bas), Susy Nander (drum), dan Titik Hamzah (vokalis). Lagi-lagi, keempatnya bondo nekat ke Jakarta. Susy bahkan harus pergi diam-diam lantaran tidak mendapat izin orang tua.

“Koes bersaudara bilang kalau mau maju harus ke Jakarta. Kalau di Surabaya ya gini-gini terus. Kami pikir, betul juga. Padahal ya tidak punya apa-apa. Alat musik nggak ada, uang pas-pasan, tapi akhirnya terlaksana juga,” beber ibu tiga anak itu.

Penampilan perdana mereka di ibu kota adalah menjadi band pembuka konser Lilis Suryani di Istora Senayan. Aksi panggung itu mendapat sambutan positif dari penonton. Perlahan nama mereka mulai dikenal. Band perempuan yang dikenal gahar di atas panggung tersebut kemudian mengganti nama menjadi Dara Puspita.

“Tahun 1965 kami sempat manggung di Bangkok selama tiga bulan. Pulang dari sana dapat tawaran bikin album pertama. Lalu, 1966 ke Malaysia itu juga disambut meriah. Tahun 1968, tiba-tiba sudah empat album saja,” tutur Susy.

Suatu ketika, mereka diminta menjadi band pendamping untuk band perempuan dari Jerman. Dari sanalah awal perjalanan go international Dara Puspita bermula. Penampilan mereka sukses menarik perhatian wakil manajer band asal Jerman tersebut.

“Kami teken kontrak, ternyata tidak langsung ke Jerman, tapi ke Iran dulu dua bulan di sana. Tamu-tamu penuh itu, kami manggung hampir tiap hari, terus pindah ke Jerman,” kenang nenek lima cucu tersebut.

Sepekan di Jerman, Dara Puspita mendapat tawaran main di Hungaria untuk enam bulan kontrak. Setelahnya, mereka tampil di beberapa negara seperti Inggris, Belgia, Turki, dan Prancis. Tur Eropa itu berjalan 3,5 tahun.

“Nggak ada nganggur, istirahat juga jarang. Untungnya nggak pernah sakit, paling cuma adaptasi cuaca. Tidak terasa udah 3,5 tahun aja. Sebelum pulang sempat main ke Belanda, tampil di club-club,” ingatnya.

Mereka kembali ke tanah air pada 1971 dan menggelar tur keliling Indonesia selama lima bulan. Tak berselang lama, Lies A.R. dan Titiek Hamzah menikah, menyisakan dua personel.

“Tahun 1973 saya menikah, jadi tidak melanjutkan karena setelah nikah dapat pekerjaan di Pertamina di Dumai, Riau. Titiek A.R. lanjut, dia gabung band perempuan di Australia,” lanjutnya.

Meski tak lagi ngeband, Susy terus bermusik. Dia membuat grup dengan rekan-rekan kerjanya. Dia juga kerap diundang teman-temannya untuk perform solo drum. Hingga pensiun pun, dia selalu menyempatkan main drum 10–15 menit. “Sekarang saya menganggapnya olahraga. Kalau ngedrum kan semuanya gerak, tangan kiri-kanan, kaki juga. Jadi, sekarang ya berkebun, ngurus rumah, latihan drum dari lihat YouTube,” tandasnya.

TIPS BUGAR ALA SUSY NANDER

– Senam aerobik low impact

– Menjaga makan. Apa pun makanannya jangan berlebihan.

– Jika bisa, masak sendiri daripada beli.

– Manajemen pikiran, enjoy, dan minimalkan stres. (lai/c7/nor/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru