Monday, 25 May, 2026

Ekspor Komoditas Pertanian Menurun

TANJUNG SELOR – Ekspor komoditas untuk sektor pertanian di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat penurunan signifikan tahun lalu.

Nominal ekspor komoditas pertanian lokal melalui pelabuhan di Kaltara turun hingga 83,95 persen atau dari USD 267,73 juta (Rp 4,22 triliun) menjadi USD 42,97 juta (Rp 677,80 miliar).

Sementara, untuk kinerja ekspor Kaltara secara keseluruhan melalui pelabuhan di luar Kaltara pun catatkan hasil negatif sebesar 13,97 persen. Dari USD 157,89 juta (Rp 2,49 triliun) menjadi USD 135,83 juta (Rp 2,14 triliun). Bahkan, terjadi penurunan nominal ekspor komoditas asal Kaltara melalui pelabuhan di DKI Jakarta sebesar 89,58 persen dan melalui pelabuhan di Jawa Timur 39,10 persen.

Terhadap ekspor melalui pelabuhan di Sulawesi Selatan naik 34 persen. Beberapa komoditas utama yang diekspor melalui pelabuhan luar daerah, berasal dari pertanian. Khususnya dari subsektor perikanan berupa aneka hasil perikanan tangkap dan budidaya serta rumput laut.

Selain itu, juga ada rempah-rempah. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara Mas’ud Rifai menilai hasil negatif ekspor pertanian disebabkan faktor penurunan produksi.

“Pola pencatatan ekspor–impor kami dari data Bea Cukai. Namun, Bea Cukai tidak menjelaskan detail faktor penurunan. Namun dari hal ini dikarenakan menurunnya faktor produksi,” jelas Mas’ud, kemarin (5/2).

Penurunan produksi yang terjadi, disebabkan fenomena badai El Nino. Dengan kondisi cuaca tersebut, berpengaruh terhadap produksi komoditas pertanian. Yang terdiri dari subsektor tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan.

“Memang banyak penurunan, salah satunya di perikanan, seperti komoditas udang,” imbuhnya.

Penurunan ekspor diperkirakan karena berkurangnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Dampak Badai El Nino menyebabkan negara tujuan ekspor menunda impor sepanjang tahun lalu. “Banyak dari negara tujuan ekspor memilih mempertahankan kondisi pangan di negaranya sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov Kalimantan Utara Bustan mengatakan, penurunan ekspor komoditas pertanian akan menjadi catatan khusus bagi pihaknya. Pasalnya, pertanian menjadi salah satu sektor perekonomian yang terus didorong pertumbuhan oleh pemerintah daerah.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, terjadi permasalahan pada komoditas udang windu yang menjadi salah satu produk ekspor unggulan Kaltara. Permasalahan diperkirakan dugaan monopoli di internal pengusaha dan ketidakterbukaan negara tujuan ekspor terhadap hasil perikanan Kaltara.

“Meskipun kualitas udang windu Kaltara di atas provinsi dan negara lain. Tapi terdapat permasalahan yang terjadi. Kami bersama tim sudah berupaya mencari solusinya. Agar tak berdampak kepada penurunan ekspor,” harap Bustan.

Selain masalah internal, titik masuk ekspor komoditas pertanian Kaltara di Tiongkok, Filipina, Jepang dan Malaysia menjadi faktor penentu. Kendati produksi optimal dan daya tampung di cold storage maksimal. Namun, komoditas tidak bisa terserap pasar secara penuh karena rendahnya permintaan.

“Jika negara tujuan ternyata menolak atau tidak ada permintaan. Tentu harga terima di cold storage bisa terjadi penurunan, dampaknya ke produksi,” ujarnya.

Upaya peningkatan ekspor tahun ini, akan melibatkan koordinasi Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Seperti Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltara akan ditugaskan mempermudah proses perizinan pelayaran menuju negara tujuan ekspor. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru