Thursday, 30 April, 2026

Harga Kedelai Lagi Melambung Tinggu

KENAIKAN harga kedelai, berdampak bagi pengusaha tahu dan tempe. Pedagang tahu dan tempe harus menurunkan jumlah produksi harian. Agar dapat menyesuaikan dengan harga bahan baku pembuatan tahu dan tempe, yakni kedelai.

Salah seorang konsumen di Tanjung Selor, Nuraini mengaku untuk tahu dan tempe sedikit sulit mendapatkannya. Sebab penjual mendapatkan stok yang terbatas.

“Kalau harga masih sama, cuma kadang cepat kehabisan,” singkat dia, Senin (21/2).

Dikonfirmasi terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kaltara Hasriyani mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika menyangkut harga kedelai yang naik. Hampir semua kedelai yang masuk di Kaltara dipastikan kedelai impor.

“Kami tak dapat mengambil kebijakan terkait naiknya harga kedelai atau pun melakukan substitusi bahan baku kedelai lokal,” terangnya.

Menurutnya, pengusaha tahu dan tempe di Kaltara mengimpor kedelai. Bahkan mereka memang membutuhkan kedelai dari luar. “Kita di sini masuknya dari luar, jadi memang tidak ada. Jadi kita menerima barang saja bukan penghasil,” ungkapnya.

Ke depan harus ada kebijakan yang dapat memenuhi kebutuhan lokal Kaltara, tanpa harus mengimpor. Salah satunya dengan mengembangkan sentra-sentra produk pertanian di kabupaten kota. Terjadinya kenaikan harga kedelai pun dirasakan pedagang tahu tempe di Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Harga kedelai satu karung yang isinya 40-45 kilogram, sebelumnya dipatok seharga Rp 560 ribu-Rp 570 ribu. Seiring dengan kenaikan kedelai secara nasional, maka satu karung saat ini Rp 650 ribu.

Sebagai pelaku usaha, tentunya tidak ingin rugi tapi mencari keuntungan. Caranya, tidak dengan menaikan harga jual tahu dan tempe. Tetapi ukurannya di kemas dalam ukuran kecil. Secara ketebalan dikurangi 3 sentimeter, dari sebelumnya sekitar 4 sentimeter.
“Kalau urusan pemasaran sangat kurang,” ucap Moch Fuadi pemilik pabrik tahu Podo Moro.

Sebelum kedelai harganya naik, produksi dalam sehari bisa menghabiskan 2-3 ton ton. Tapi sekarang untuk menghabiskan satu ton saja, sangat sulit. “Ketika ketebalannya dikurangi, otomatis banyak konsumen yang komplain. Ditambah dengan persaingan, jadinya kita serba salah,” ungkapnya.

Sepengetahuan dia, pabrik tahu dan tempe di KTT ini lebih dari satu. Ada di Seludau, Trans dan Tideng Pale serta Tideng Pale Timur. Harga jual tahu dan tempe di pasar dikenakan isi empat seharga Rp 5 ribu, tapi tergantung ukurannya.

Produk yang dihasilkan jarang dijual ke pasar. Tapi, memanfaatkan pelanggan individu atau pegawai dan warung-warung. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru