Dua tahun Ita menggarap buku cerita berbahasa Jawa. Karakter Titi si tikus dipilih agar lebih mudah dipahami serta sesuai dengan shio Ita. Pada penerbitan pertama, buku itu dicetak 100 eksemplar.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
TITI si tikus, lakon utama dalam buku Titi Tikus Ambeg Welas Asih, digambarkan punya sifat penuh kasih sayang dan baik hati. Meski berasal dari keluarga yang pas-pasan, ia sering membagikan makanan kepada teman-temannya. Bagi Titi, membantu orang lain yang sedang kesusahan adalah keharusan.
Buku Titi Tikus Ambeg Welas Asih merupakan karya Ita Surojoyo. Penggarapannya memakan waktu dua tahun. Juli lalu buku tersebut resmi beredar di pasaran. Berbeda dengan cerita anak-anak pada umumnya, buku itu ditulis dengan bahasa dan aksara Jawa.
“Poinnya mengajarkan anak-anak untuk selalu berbuat baik, menolong sesama, dan berbagi satu sama lain. Tikus saya pilih karena sesuai shio saya,” kata Ita.
Penulisan buku itu bermula dari keresahan Titi. Dia melihat buku cerita anak-anak berbahasa dan beraksara Jawa sedikit. “Sulit mencari buku cerita bahasa Jawa. Saya sudah keliling di beberapa toko buku,” tuturnya.
Berbeda ketika mencari buku cerita berbahasa asing. Karya penulis luar negeri itu sangat mudah dijumpai. Bukannya Ita tidak suka. Namun, perempuan yang berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris itu ingin buku cerita bahasa Jawa lebih banyak.
“Bagaimana mungkin anak-anak bisa belajar (bahasa Jawa) dengan lebih baik kalau bacaan pendukungnya sangat sulit didapat. Kemudian, saya berpikir untuk menulis apa yang tidak ditemukan di toko buku,” ucapnya.
Dengan menulis buku Titi Tikus Ambeg Welas Asih, Ita ingin membuktikan bahwa dirinya masih memiliki jati diri sebagai orang Jawa dan menjaga warisan para leluhur. “Saya ingin melestarikan budaya Jawa. Agar anak-anak muda tidak tercerabut dari asalnya,” paparnya.
Dalam bukunya, Ita memasukkan banyak gambar kawasan heritage hingga gedung lawas di Surabaya. Misalnya, Balai Pemuda, Jalan Tunjungan, serta patung sura dan buaya yang merupakan simbol metropolis.
“Saya kecil di Nganjuk, tapi sudah delapan tahun tinggal di Surabaya. Saya jatuh hati dengan kota ini,” ujarnya.
Pada penerbitan pertama, buku tulisannya dicetak 100 eksemplar. Tidak semua buku dijual untuk kebutuhan komersial. Dari jumlah tersebut, 70 buku disumbangkan kepada lembaga pendidikan seperti sekolah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta. (*/c19/aph/jpg)


