TANJUNG SELOR – Dalam Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) periode Februari 2022, tingkat kesenjangan ekonomi di Kalimantan Utara mengalami penurunan. Hal ini berdasarkan penghitungan gini ratio yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS).
Gini ratio merupakan salah satu indicator, yang mengukur tingkat pemerataan distribusi pendapatan penduduk. Dari data yang diterima, gini ratio Kaltara September 2021 di level 0,285. Lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya di level 0,300.
“Saya nilai kondisi ini cukup baik, mengingat adanya dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemic. Menjadi indikasi perekonomian sudah mulai membaik,” ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara Tedy Arief Budiman, Jumat (25/3).
Secara spasial, Kaltara memiliki gini ratio terendah jika dibandingkan provinsi lain di Kalimantan. Pada tingkat nasional, Kaltara menjadi provinsi ketiga dengan gini ratio terendah setelah Bangka Belitung dan Maluku Utara.
“Hal ini menunjukkan pemerataan kesejahteraan di Kaltara sangat baik dan merata. Khususnya di tengah kondisi pandemi Covid-19, yang masih terjadi di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, kemampuan konsumsi masyarakat Kaltara yang diukur berdasarkan pengeluaran per kapita mengalami peningkatan di tahun 2021. Kondisi ini mengalami tren perbaikan dibandingkan tahun 2020, yang kontraksi negatif.
Membaiknya indikator itu membuat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltara turut mengalami peningkatan. “Pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan, mengalami peningkatan menjadi Rp 9.075.000. Lebih tinggi dari pengeluaran per kapita tahun 2020. Ini yang membuat IPM Kaltara kembali meningkat,” pungkasnya. (kn-2)


