Kucing liar kerap dijumpai di lingkungan sekitar masyarakat. Tidak terkecuali di area kampus. Kondisi kucing yang kadang mengenaskan membuat Komunitas Unair Peduli Hewan tergerak menyelamatkannya.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
ALYSSA Chiara bersama dua temannya, Kayla D’Eva Putri dan Angelina Amanda Dewi, menyusuri area Kampus B Universitas Airlangga (Unair) Rabu lalu (22/3). Mereka tengah berburu kucing-kucing liar di sekitar kampus. Tangan tiga perempuan tersebut membawa makanan untuk diberikan kepada kucing-kucing liar itu.
Ya, mereka adalah tim Komunitas Unair Peduli Hewan (UPH). Saat itu, mereka tengah melakukan street feeding yang kerap dilakukan hampir setiap hari ketika di kampus. Kegiatan rutin street feeding juga dilakukan setiap weekend di luar kesibukan mereka berkuliah.
“Yang pasti setiap ke kampus, kami dari komunitas UPH selalu membawa makanan kucing. Jadi, ketika bertemu kucing, langsung dikasih makan,” kata Alyssa, founder Komunitas UPH, kepada Jawa Pos di tengah aktivitas mereka berburu kucing liar di kampus Unair.
Tidak perlu menunggu lama, tiga mahasiswa Unair tersebut menemukan dua kucing liar. Mereka langsung memberi makan. Meski tidak dipelihara, tubuh kucing liar tersebut terlihat bugar. Sebab, banyak anggota komunitas UPH yang merawatnya.
“Kadang, kami juga menemukan kucing dalam kondisi scabies (kudis). Kasihan,” ujarnya.
Biasanya, kucing yang mengalami scabies tersebut di-rescue untuk dirawat. Hingga akhirnya, kondisi kucing kembali sehat. Setelah itu, komunitas UPH membuka kesempatan bagi yang ingin mengadopsi kucing tersebut. “Ada yang kami rescue. Setelah sehat, kami open adopt,” kata dia.
Komunitas UPH dibentuk sejak Maret 2021. Ide tersebut berawal dari empat mahasiswa fakultas ekonomi bisnis (FEB). Selain Alyssa, ada Yoana, Dewi Karina Purnomo, dan Yan Cerin Satmoko. Namun, kini anggotanya semakin luas hingga berbagai fakultas.
“Sekarang kami punya lebih dari 50 anggota di komunitas Unair Peduli Hewan,” ucapnya.
Alyssa mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, di kampus, khususnya FEB, sering ada kucing liar. Tubuhnya gendut karena banyak yang memberi makan. Ada satu kucing yang terkenal. Namanya Ciko. Banyak mahasiswa yang sayang pada kucing tersebut karena tidurnya anteng banget. Namun, sejak pandemi Covid-19, mahasiswa berkuliah secara online. Jadi, banyak kucing yang tidak terurus.
“Kondisi kampus sepi. Tidak ada yang memberi makan kucing-kucing liar. Termasuk Ciko,” kata dia.
Dari situlah, komunitas UPH terbentuk. Tujuannya, kucing-kucing liar di seluruh kampus Unair terawat. Komunitas tersebut juga menarik banyak mahasiswa yang memiliki kepedulian tinggi terhadap hewan.
Ya, memang tidak disangkal bahwa populasi kucing liar di lingkungan kampus dan masyarakat kian banyak. Hal itu membuat banyaknya kucing liar yang tidak terawat. Kondisinya juga mengenaskan. Karena itu, komunitas UPH tidak sekadar memberi makan kucing-kucing tersebut, tetapi juga membantu menekan populasi. (*/c6/git/jpg)


