Friday, 19 June, 2026

Ke Pulau Kangean, Menyaksikan Tim Yankes Bergerak Beri Layanan yang Ditunggu Warga

Begitu tiba di Kangean yang terpisah empat jam perjalanan laut dari Sumenep, Tim Yankes Bergerak Dinkes Jatim langsung dihadapkan pada kasus ibu yang kesulitan melahirkan jabang bayi kedua. Ratusan orang, termasuk dari pulau-pulau sekitar, datang untuk mengakses layanan mulai tindakan bedah, operasi katarak, sampai konseling jiwa itu.

EKO HENDRI SAIFULSumenep

BIDAN sebenarnya sudah memberi tahu Mutmainah bahwa kelahirannya kali ini harus lewat operasi Caesar. Bayinya kembar dan dalam posisi nyungsang.

Tapi, saat hari H tiba, keadaan memaksa perempuan 32 tahun itu untuk hanya bisa pasrah. Dia tinggal di Kangean, satu di antara ratusan pulau di Kepulauan Kangean yang jauh dari Sumenep, kabupaten yang membawahkannya di Pulau Madura. Empat jam perjalanan laut yang memisahkan dua pulau di Jawa Timur (Jatim) itu.

Meski dihuni sekitar 10 ribu jiwa, hanya ada dua puskesmas di Kangean. Kasus-kasus medis yang butuh penanganan lanjutan otomatis harus dirujuk ke Sumenep yang tak dekat dan tak murah.

Abdullah, suami Mutmainah, sehari-hari berjualan perkakas dapur. “Untuk sewa ambulans laut saja sekitar Rp 7 juta. Belum biaya hidup dan pengobatan di sana (Sumenep, Red),” kata Mutmainah kepada Jawa Pos yang menemuinya di Kangean pada awal bulan lalu (4/11).

Mutmainah masih tergolek lemah ketika itu di tempat tidur di ruang bersalin RS Abuya Kangean. Dia dan kedua bayinya memang baru saja menjalani momen-momen sangat menegangkan.

Emosinya masih naik turun. Tutur katanya lancar, tapi dalam nada lemah. Berkali-kali selama perbincangan dia menghapus air mata.

“Saya ingin segera pulang,” ujarnya, lantas terisak.

Jawa Pos tiba di Kangean bersama rombongan Tim Pelayanan Kesehatan (Yankes) Bergerak Dinas Kesehatan Jatim sehari sebelumnya. Tim tersebut tengah melakoni bakti sosial pada 3–6 November di pulau dengan Arjasa sebagai kecamatan terbesarnya itu.

Mutmainah menuturkan, dirinya dan suami sejatinya sangat bergembira menyambut kedatangan anak kedua dan ketiga mereka. Mutmainah mengenang, ketika kali pertama dikabari bidan bahwa jabang bayi yang dikandungnya kembar, dirinya dan suami membuat syukuran kecil-kecilan.

Tapi, kabar lain saat kandungannya sudah berusia 7 bulan membuat Mutmainah seperti terempas ke bumi. Biaya besar dan perjalanan jauh membuat dia tak punya pilihan lain.

Maka, saat air ketubannya keluar pada Rabu (2/11), Mutmainah pun memilih memaksakan diri untuk melahirkan di Puskesmas Arjasa. Bidan terpaksa melayani karena kondisinya darurat.

“Saya pilih pasrah. Kalau memang belum dikasih anak lagi, ya harus bagaimana,” katanya dengan pipi basah.

Persalinan anak pertama berjalan lancar. Seorang bayi perempuan lahir normal di tangan sang bidan. Namun, itu tidak terjadi pada kelahiran anak kedua. Meski sudah dirangsang, si jabang bayi tetap tak mau keluar. Bidan dan seluruh perangkat puskesmas kebingungan.

Beruntung, pada detik-detik menegangkan itu, Tim Yankes Bergerak tiba dari Kapal Ekspres Bahari pada Kamis (3/11) siang. Tanpa menghiraukan rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang, mereka langsung melakukan operasi Caesar sore harinya.

Mutmainah ditangani tujuh tenaga kesehatan (nakes), termasuk dokter spesialis anak, anestesi, dan kandungan. “Ini benar-benar keajaiban. Anak ini bisa bertahan selama 32 jam di dalam kandungan,” kata Koordinator Tim Yankes Bergerak dr Ninis Herlina Kiranasari tentang bayi kedua Mutmainah.

Secara hitung-hitungan medis, Ninis menyebut sang bayi seharusnya kesulitan bertahan. Sebab, air ketuban sudah keluar saat proses kelahiran pertama.

Posisi bayi kedua Mutmainah, lanjut Ninis, seperti huruf U. Tubuhnya mlungker. “Kami memang sempat kesulitan saat melakukan pembedahan. Namun, semuanya terus berdoa,” tambah Ninis.

Untuk menjalani operasi Caesar, Mutmainah dipindah dari Puskesmas Arjasa ke Rumah Sakit (RS) Abuya. Tapi, tim dokter mengkhawatirkan kesiapan rumah sakit tersebut.

Maklum, RS Abuya memang masih baru dan hanya dipakai saat ada Tim Yankes Bergerak. Belum ada izin pengoperasiannya. Izin itu baru direncanakan keluar setelah visitasi tim dari Pemprov Jatim yang juga bersamaan dengan kegiatan Yankes Bergerak. “Alat mungkin sudah ada. Masalahnya justru di listrik,” kata Ninis.

Di RS Abuya memang sudah ada genset. Namun, kapasitasnya dinilai masih kurang. Para dokter yang mengoperasi Mutmainah khawatir operasi terhenti akibat listrik mati.

Beruntung, yang dikhawatirkan itu tak terjadi. Operasi yang melibatkan tujuh nakes, termasuk tiga dokter spesialis itu, sukses. Mutmainah melahirkan bayi cantiknya yang kedua. Bobotnya 2,3 kilogram, panjangnya 48 sentimeter.

Bukan hanya Mutmainah, program Yankes Bergerak juga menyasar 428 orang lainnya. Mereka bukan hanya warga Kangean. Ada pula yang datang dari pulau-pulau sekitar di Kepulauan Kangean: Sapudi, Sapeken, dan Raas. Warga rela menyeberang ke Kangean, pulau terbesar di kepulauan itu, demi mendapatkan pengobatan gratis.

Sejumlah layanan medis disiapkan petugas kesehatan. Mulai akupunktur, operasi katarak, konseling jiwa, tindakan bedah, gigi, hingga kandungan. Kegiatan dipusatkan di RS Abuya Kangean.

Ridhawi, warga lainnya, mengaku sengaja pulang dari Malaysia untuk mengobatkan matanya. Dia kena katarak. “Kalau operasi langsung, biayanya mahal. Saya sengaja pulang untuk mendaftar pelayanan,” kata Ridhawi.

Para tenaga kesehatan yang terlibat pun trenyuh sekaligus lega bisa mengobati masyarakat Pulau Kangean yang sudah lama menunggu program Yankes Bergerak. “Kami menyadari pentingnya layanan ini. Ada yang kaget bisa mengobati hernia sebesar kelapa,” ujar Ninis.

Mutmainah termasuk yang sangat berterima kasih atas bantuan Tim Yankes Bergerak. “Saya berterima kasih kepada seluruh dokter dan perawat. Saya bersyukur sekali kedua anak saya lahir selamat,” katanya. (*/c19/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru