TARAKAN – Membawahi wilayah Kaltara, Kantor SAR Tarakan memiliki sejumlah perlengkapan penyelamatan yang perlu segera dilengkapi.
Hal ini menjadi perhatian Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas Pusat, untuk bisa memenuhi kebutuhan SAR di setiap wilayah. Diakui Direktur Operasi dan Latihan BNPP (Basarnas) Brigjen TNI (Mar) Wurjanto, secara keseluruhan masih ada sejumlah kantor SAR yang masih kekurangan perlengkapan penyelamatan.
Namun, tetap menjadi tanggung jawabnya untuk bisa mengcover seluruh kebutuhan wilayah Indonesia. “Sementara ini saya kira sudah cukuplah. Tapi kita perlu terus penambahan. Sebelum ini sudah ada penyampaian dari pimpinan, kita akan mendapatkan sekitar 74 RBB (Rigid Bouyancy Boat) dan kapal cepat. Ada juga penambahan helikopter. Nanti ada penambahan untuk SAR Tarakan,” ujarnya, Rabu (30/3).
Selain perlengkapan penyelamatan ini, SAR Tarakan akan mendapatkan penambahan sumber daya manusia (SDM). Terlebih lagi jika melihat SDM yang ada saat ini masih kurang. Jika dibandingkan dengan wilayah kerja kantor SAR cukup luas dan jumlah cukup banyak.
Sehingga, pihaknya berkolaborasi dengan aparat lain dari TNI/Polri dan BPBD maupun potensi yang ada. Hal tersebut untuk mengantisipasi yang harus dikerjakan, bisa segera beraksi. Terutama, Kaltara yang sebagian besar wilayah perairan, akan menjadi prioritas.
“Hampir seluruh wilayah sebenarnya menjadi prioritas. Kita tahu negara ini juga lebih banyak kelautannya. Kecelakaan lebih banyak di laut. Daripada perlengkapan, alut yang lain, pasti akan lebih diperbanyak untuk alutsista laut,” tegasnya.
Dengan cakupan wilayah yang luas di Kaltara, nantinya juga akan ada penambahan Pos SAR. Salah satunya di Kabupaten Bulungan, ia pastikan akan menjadi perhatian untuk bisa menyesuaikan perkembangan daerah.
Sementara Kepala Kantor SAR Tarakan Amiruddin menambahkan, secara administrasi Kaltara terpisah dari Kaltim. Sehingga tahun 2020 dibentuk Kantor SAR Tarakan. Selama dua tahun ini, menghadapi pandemi Covid-19 berdampak dengan koordinasi dan sosialisasi.
Sejak tahun 2021 hingga Maret tahun ini, pihaknya menangani sekitar 35 kejadian. Dengan 67 korban selamat dan 21 orang meninggal dunia. Termasuk ada 10 orang masih dinyatakan hilang.
“Ada satu Pos SAR di bawah kami, tepatnya di Nunukan. Akses jadi kendala, salah satunya masalah tanah longsor di tambang wilayah Kabupaten Tana Tidung dan banjir di Malinau. Harus lewat laut dulu, baru lewat darat. Makanya kami rencananya membuka unit siaga SAR di Bulungan. Sehingga respon time kami bisa lebih cepat,” jelasnya.
Dengan kondisi wilayah di Kaltara, sehingga memerlukan penambahan kendaraan yang bisa digunakan. Terutama dalam upaya penyelamatan di wilayah hutan atau membantu pemadaman kebakaran hutan dan tanah longsor. Akses jalan ke wilayah perbatasan hanya bisa dilewati menggunakan kendaraan khusus. (kn-2)


