Tak hanya lewat forum resmi, saat kumpul ronda, kenduri, atau nongkrong, ada saja bapak-bapak yang tanya soal KB Pria kepada para motivator Gatotkaca. Kerap menemukan persepsi yang salah bahwa vasektomi disamakan dengan dikebiri.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta
PROGRAM keluarga berencana (KB) kerap diidentikkan dengan ibu-ibu. Padahal, tidak semua cocok dan ada yang berdampak buruk bagi kondisi fisik maupun mental.
Karena itulah, sekelompok bapak di Kelompok Gatotkaca Gatotkaca Blitar, Jawa Timur, bersedia divasektomi atau memutus saluran sperma dari buah zakar.
Hajib, salah seorang motivator kelompok, menyebutkan, sebagai suami dirinya selalu mendukung penggunaan KB untuk istrinya pasca melahirkan. Terutama setelah anak keduanya lahir pada 2011.
KB yang diikuti mulai suntik hingga pasang IUD. “Namun, reaksi di tubuh istri tidak baik. Kalau yang suntik itu timbul flek di wajah. Lalu sempat ada pendarahan juga kalau pasang KB (IUD),” katanya kepada Jawa Pos.
Hajib pun jadi khawatir terhadap kondisi istrinya. Babinsa yang bertugas di Kodim 0808 Blitar itu akhirnya memutuskan untuk dirinya saja yang ber-KB.
Ini tentu juga atas saran dari tenaga kesehatan setempat. Hajib mengaku pergulatan batinnya tidak sebentar. Di benaknya kala itu adalah risiko pasca tindakan.
“Namanya dioperasi, meskipun ringan operasinya,” kenangnya.
Akhirnya, pada 2013, setelah anak ketiganya lahir, Hajib mantap vasektomi. Apalagi, dia mendapat informasi bahwa saluran sperma yang sudah diputus dapat disambung lagi jika ingin punya anak. Dia pun mendaftarkan diri dan mengikuti vasektomi.
“Luka sayatan kecil sekali. Dipakaikan Hansaplastsaja untuk nutup lukanya,” tuturnya.
Hajib menyebut rasa perihnya juga tak seberapa. Masih jauh lebih parah sunat.
Motivator Kelompok KB Pria Gatotkaca lainnya, Mochamad Mansur, juga melakukan vasektomi setelah anak ketiganya lahir pada 2011. Sama seperti Hajib, istri Mansur melakukan KB pasca kelahiran setiap anaknya.
Tujuannya menunda kehamilan. Jenis KB yang dilakukan pun bergantian. “Itu karena ada keluhan. Misal yang suntik satu bulan sekali, beberapa bulan setelahnya ada keluhan. Coba ganti yang tiga bulan sekali, lalu muncul keluhan lagi,” katanya.
Reaksi yang muncul itu selalu diceritakan istrinya. “Saya sayang sama istri. Dia merasakan sakit setiap hari,” ucapnya.
Beruntung di Blitar ada kader KB di setiap RT. Akhirnya, dia memutuskan dirinya saja yang ber-KB. “Kasihan kalau badan istri semakin gemuk. Ngeluh sering capek,” imbuhnya.
Pascavasektomi, Hajib maupun Mansur merasa tidak ada perubahan dalam tubuhnya. “Cuma tidak bisa membuat hamil,” kelakar Mansur.
Istri Hajib dan Mansur juga sudah lepas KB dan tidak merasakan dampak hormonal efek KB tersebut. Mansur menyatakan bahwa istri yang tidak merasa sakit lagi dan berat badannya turun ini membawa dampak baik bagi keluarganya.
Mereka semakin harmonis. Sebagai suami, dia juga semakin tenteram karena istrinya mampu mengerjakan kewajiban sebagai ibu dan istri dengan lebih happy.
Mereka pun menceritakan pengalaman vasektomi kepada masyarakat. Tidak hanya dibicarakan di forum formal. Saat kumpul ronda, kenduri, atau nongkrong bapak-bapak, ada saja yang tanya soal KB Pria. Biasanya bermula dari merasa jumlah anak mereka sudah cukup.
Ketika disodori opsi KB Pria, yang banyak diketahui adalah kondom. Lalu, ketika ada penjelasan terkait vasektomi, rata-rata yang mendengarkan akan mengernyitkan dahi.
Di situlah tugas motivator di kelompok KB Pria. “Oh, manuke ora dipotong?” ucap Mansur menirukan reaksi orang yang pernah mendengarkan sosialisasi vasektomi.
Kelompok KB Pria juga menyosialisasikan vasektomi di kelompok ibu-ibu. Seperti bapak-bapak, banyak juga persepsi yang salah dengan vasektomi.
Ada yang khawatir performa di ranjang akan menurun atau malah suaminya sering pegal linu. “Maklum, banyak mitos. Faktanya banyak yang sudah vasektomi karena sudah tidak ada pikiran akan ’jadi’ malah menjadi rileks dan lebih prima,” tutur pria 52 tahun tersebut.
Hajib menyatakan bahwa dukungan semua pihak dalam menyukseskan KB Pria itu harus dilakukan. Terutama untuk menyebarkan informasi yang valid dari manfaat vasektomi. Dorongan dari pemerintah, menurut dia, cukup efektif.
Misalnya, di Kota Blitar, setiap pria yang ikut vasektomi akan diberi reward uang saku atau ganti rugi karena dia tidak bekerja selama pemulihan pasca tindakan. “
“MUI yang semula melarang sekarang memberikan fatwa boleh vasektomi karena salurannya itu bisa disambung lagi kalau mau punya anak lagi. Tapi, ini bayar sendiri,” ucapnya.
Hadirnya motivator dari bapak-bapak yang sudah vasektomi ternyata mendorong minat pria lain. Hajib saat dihubungi Jawa Pos pada 11 Juli lalu menyebut sudah ada tiga orang yang rencananya mau vasektomi. Keberhasilan mengajak bapak-bapak untuk vasektomi tidak lepas dari prestasi Kelompok KB Pria Gatotkaca yang meraih juara II regional (Pulau Jawa-Bali) yang diselenggarakan BKKBN pada Hari Keluarga Nasional (Haranas). “KB Pria di Blitar ini kolektif. Jadi, dikumpulkan dulu pesertanya,” ucapnya. (*/c19/ttg/jpg)


