Monday, 6 April, 2026

Kisah Farid Mustafa, Sisihkan Duit 6 Bulan Demi Mudik Bertemu Keluarga

Mudik Hari Raya Idul Fitri kembali diadakan pada 2022 ini. Sebelumnya, selama 2 tahun, pemerintah melarang adanya mudik akibat pandemi Covid-19. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh warga untuk bisa kembali ke kampung halaman tercinta.

Sabik Aji Taufan, Jakarta

TERMINAL Terpadu Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur tampak bergeliat Minggu (24/4) siang. Meskipun Hari Raya Idul Fitri masih lebih dari sepekan lagi, ratusan para pemudik di seantero Jakarta, mulai hilir mudik berdatangan memenuhi terminal dengan luas lahan 12,6 hektar dan luas bangunan 5,4 hektar.

Tua, muda, mereka tampak sibuk membawa berbagai tas besar, hingga kardus berisi aneka ragam barang. Mulai dari pakaian, makanan, hingga souvenir. Mereka punya tujuan yang sama. Ingin pulang kampung halamannya tercinta, setelah hampir dua tahun lamanya tak bisa beranjangsana dengan sanak famili atau handai tolan-nya.

Tak mau kalah gesit dengan para pemudik, sejumlah porter pun hilir mudik menawarkan jasa ke sejumlah pemudik, yang terlihat kewalahan membawa banyak barang bawaan.

Di ruang tunggu terminal, Farid Mustafa, 52, tampak terlihat santai menunggu bus yang dipesannya diberangkatkan. Lelaki asal kota Satria ini, hanya membawa 1 tas besar untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Farid mengatakan, dirinya memilih pulang lebih awal ke Purwokerto agar tidak terjebak kemacetan. Sehingga tidak terlalu lelah perjalanan saat menjalankan puasa.

“Yang sudah-sudah kan kalau mudik pasti macet banget, jadi mending pulang sekarang,” ucap Farid diiringi senyum tipis, ketika berbincang dengan JawaPos.com, Minggu (24/4).

Bagi Farid, mudik tahun ini memang sedikit berbeda, karena sudah dua tahun tak ikut mudik. Dua tahun belakangan dia hanya bisa pulang kampung beberapa kali, itu pun bukan saat momen lebaran.

“Dua kali lebaran di Jakarta. Waktu itu mau pulang tapi nggak bisa, kan dilarang pemerintah. Jadi terpaksa di Jakarta. Anak istri di kampung,” kata Farid dengan wajah datar.

Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini mengaku tidak banyak menemui kendala untuk mudik. Meskipun masih pandemi, kerjaan terbilang lancar dalam 6 bulan terakhir. Sehingga uangnya bisa ia sisihkan untuk membeli tiket dan modal lebaran bersama istri dan 3 anaknya di kampung serta keluarga lainnya.

Alhamdulillah kerjaan lancar, walaupun nggak sekenceng dulu, tapi proyek-proyek benerin rumah sama ikut mandor masih ada. Uangnya bisa buat di kampung,” jelasnya.

Rencananya, Farid akan berada di Purwokerto sekitar 2-3 minggu ke depan. Sambil menunggu panggilan kerjaan. Dia berharap lebaran kali ini bisa semakin bermakna, karena bisa kembali berkumpul dengan keluarga di kampung.

“Dua tahun kan kita nggak mudik. Tahun lalu mau mudik nggak bisa, dicegat sana sini sama polisi. Mumpung sekarang boleh mudik ya harus pulang. Keluarga masih banyak di kampung,” paparnya.

Pemudik lain, Dirman, 43, terlihat asik mengobrol bersama ketiga anaknya saat JawaPos.com menyambanginya. Sementara istrinya duduk di sampingnya. Meski banyak membawa berbagai barang untuk oleh-oleh keluarga di kampung halaman, mereka tak mengeluh. Bahkan rona wajahnya tampak ceria.

Dirman dan keluarganya hendak mudik ke Solo, Jawa Tengah. Mereka ingin merasakan lebaran bersama keluarga lagi di kampung, setelah dua kali terhalang pandemi.

“Kalau mudik biasa berangkat dari sini, naik bus,” kata Dirman.

Dirman mengaku memilih mudik lebih awal untuk menghindari macet parah. Terlebih pemerintah memprediksi jumlah pemudik tahun ini mencapai 80 juta. “Biar nggak susah cari tiket juga kan,” imbuhnya.

Betul saja prediksinya, saat hendak memesan tiket secara online, Dirman pun tak kesulitan, karena masih banyak yang tersedia. “Kalau dulu kan cari tiket susah banget pas dekat-dekat lebaran,” kata pria yang berprofesi sebagai penjual sayur itu.

Berdasarkan data Terminal Pulo Gebang, penumpang bus pada periode mudik ini memang mulai mengalami peningkatan. Bahkan mencapai 70 persen. Pada Sabtu (16/4) pekan lalu jumlah penumpang yang berangkat hanya 768 orang diangkut oleh 156 armada bus.

Jumlah tersebut kemudian naik keesokan harinya menjadi 986 penumpang, lalu turun kembali menjadi 688 penumpang pada 18 April 2022. Kenaikan tertinggi terjadi pada 21 April 2022, penumpang yang berangkat mencapai 1.642 orang.

Kemudian dua hari terakhir mengalami penurunan masing-masing 895 penumpang pada 22 April, dan 1.184 penumpang pada 23 April. Secara rata-rata, penumpang di Pulo Gebang naik 70 persen terhitung sejak Rabu (20/4). (jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru