Friday, 17 April, 2026

Kompleks Wisata Religi Setono Gedong Lebih Ramai Lagi Didatangi di Malam-Malam Akhir Puasa

Meski berada di tengah Kota Kediri yang hiruk, masjid, pendapa, dan makam di kompleks wisata religi Setono Gedong menghadirkan suasana kontras. Mbah Wasil, yang makamnya ada di sana, merupakan sahabat raja Kadiri meski keduanya berbeda keyakinan.

I’IED RAHMAT RIFADIN, Kota Kediri

MISTIS, bukan. Magis atau misterius, juga kurang pas. Sakral. Iya, sakral adalah kata paling mendekati untuk menggambarkan suasana yang langsung ditangkap setiap orang yang memasuki kawasan religi Setono Gedong di Kota Kediri, Jawa Timur.

Perbedaan kontras antara kawasan religi Setono Gedong dan sekitarnya, yakni Jalan Dhoho yang merupakan titik perdagangan tersibuk di Kota Kediri, membuat aura sakral itu makin kental.

Jika Jalan Dhoho begitu hiruk, memasuki kawasan religi tersebut suasananya berbeda 180 derajat. Semakin melangkah lebih dalam di area itu, suasana hening dan tenang kian terasa. Puncak kesakralan tersebut ada di makam Mbah Wasil, sapaan masyarakat sekitar untuk Syekh Al Wasil Syamsudin. Makam itu tidak pernah sepi dari peziarah.

Ada tiga lokasi penting di dalam kawasan itu. Memasuki gapura, akan langsung terlihat Masjid Auliya’ Setono Gedong. Tepat di belakangnya, ada pendapa yang dibangun di atas reruntuhan candi masa silam. Dan, yang paling barat adalah makam Syekh Al Wasil Syamsudin.

Saat Jawa Pos berkunjung pada Selasa (4/4) siang, beberapa peziarah tampak khusyuk mengaji dan berdoa di depan makam Mbah Wasil yang juga dikenal dengan nama Pangeran Makkah. Beberapa peziarah lain beristirahat di pendapa. “Kurang lebih sudah dua bulan saya di sini. Suasananya tenang. Enak buat menyendiri dan berdoa,” ucap Siswanto, peziarah asal Lumajang, Jawa Timur, yang ditemui Jawa Pos di pendapa.

Guru besar Universitas Negeri Malang Prof Dr Habib Mustopo dalam penelitiannya menyebut Mbah Wasil sebagai ulama besar dari Persia yang hidup pada abad ke-12. Saat itu Kediri masih di bawah pemerintahan kerajaan Kadiri yang bercorak Hindu dan dipimpin Prabu Sri Aji Jayabaya.

Dalam bukunya, Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto menyebutkan bahwa Mbah Wasil datang ke Kediri untuk berdakwah atas permintaan raja Kadiri tersebut. Keduanya bersahabat meski berbeda keyakinan. Mbah Wasil didatangkan untuk membahas kitab Musarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).

Hingga kini, belum ada satu versi yang disepakati terkait sejarah Mbah Wasil. Beberapa sejarawan juga menyebut Mbah Wasil sebagai guru spiritual Sri Aji Jayabaya.

Pendapat itu dikuatkan dengan ditemukannya jejak purbakala, yakni reruntuhan candi di lokasi tersebut. Pendapa yang berdiri di sisi timur makam Mbah Wasil itu dibangun di atas reruntuhan candi. Konon, candi itu sengaja dirusak setelah tentara kesultanan Demak berhasil merebut Dhaha Kadiri pada 1524 dari tangan kerajaan Majapahit.

Untuk menandai area Setono Gedong yang mereka kuasai, tentara Islam Demak juga membuat inskripsi tertulis di atas batu. Inskripsi itu menggunakan huruf Arab yang terpahat pada makam Syekh Al Wasil Syamsudin.

Kini, kawasan religi itu ditetapkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan sebagai cagar budaya. Hingga kini, banyak pula yang percaya bahwa Mbah Wasil adalah ulama besar yang membawa Islam ke tanah Nusantara sebelum era Wali Sanga. Itu ketika bumi Nusantara masih dikuasai kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha.

“Ndak pernah sepi Mas, yang ziarah ke sini. Dari mana-mana datang ke sini. Kalimantan, Jakarta, Semarang. Ada yang rombongan, ada yang sendiri-sendiri. Lebih ramai lagi nanti di malam-malam akhir puasa,” ujar Mbah Paini, salah seorang pengurus makam yang sudah berusia 89 tahun, saat ditemui Jawa Pos siang itu. (*/c18/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru