Lulus kuliah di Boston, Laurentia Editha bekerja keras di Los Angeles sampai bisa terlibat dalam berbagai proyek film, serial TV, dan dokumenter. Kini, dia tengah mencari jalan agar bisa terhubung dengan industri film yang lebih besar.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
SOUNDTRACK film animasi How to Train Your Dragon berhasil membuat takjub Laurentia Editha saat kali pertama mendengarnya. Padahal, dia belum melihat filmnya. “Pas aku dengar itu, kayak ini sesuatu yang pengin aku rasakan dan ingin orang lain juga merasakannya. Aku pengin bantu orang-orang merasakan perasaan megah itu,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (22/5).
Laurentia pun mencari tahu siapa di balik karya musik film rilisan 2010 tersebut. Dari situ, dia mengenal profesi komposer. Laurentia yang pada 2013 tengah dilema akhirnya mengambil studi film dan musik di Berklee College of Music, Boston, Amerika Serikat (AS).
Dia ingin menciptakan karya musik yang dapat memainkan emosi pendengarnya sebagaimana John Powell, komposer film How to Train Your Dragon.
“Aku sudah diterima sebenarnya di kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, tapi masih ragu,” ucap komposer muda yang meniti karier di Los Angeles, AS, tersebut.
Awalnya, alumnus SMA Cita Hati Christian School, Surabaya, itu memang ingin menjadi dokter. Terlebih, kakek dan pamannya juga seorang dokter. Di sisi lain, hasrat bermusiknya sudah terlihat sejak kecil. “Ortu kan yang paling tahu anaknya, ya. Waktu itu mama nanya, ’Beneran ta kamu mau jadi dokter? Yakin?’” tutur arek Suroboyo itu, menirukan sang mama.
Setelah menjalani serangkaian seleksi, sulung dari dua bersaudara itu pun meninggalkan tanah air. Selama tiga tahun, Laurentia tinggal di Boston untuk belajar mengutak-atik nada. Barulah di tahun keempat kuliah dia pindah ke Los Angeles untuk kerja praktik.
“Untung, Los Angeles cukup terbuka untuk orang luar seperti Asia. Yang jadi tantangan di awal pindah justru bagaimana aku menghasilkan uang untuk bisa bertahan di LA,” ujar perempuan 28 tahun itu.
Laurentia harus bekerja lebih keras untuk membangun relasi agar keahliannya diakui. Butuh bertahun-tahun sampai dia bisa lebih stabil menerjunkan diri dalam berkarier. Apalagi di dunia hiburan sebesar Hollywood.
Di tahun pertama, dia sampai harus menjadi asisten untuk beberapa komposer sekaligus. “Jadi, bangun jam 8 pagi itu jadi asisten orang pertama. Siang sampai malamnya sama orang kedua. Terus, jadi asisten orang ketiganya malam sampai tengah malam,” terangnya.
Kerja keras dan dedikasinya berbuah. Tawaran mulai berdatangan. Anggota Hans Zimmer’s Bleeding Fingers Music itu dikenal karena pekerjaannya di Apple TV’s Home, Netflix’s Alien Worlds, National Geographic’s Kingdom of the Mummies, dan musik tambahan di Savage Kingdom: Season 4 (2020).
Dia juga terlibat dalam berbagai film, serial TV, dan dokumenter. Di antaranya, Life Between the Waters (2017) yang diputar di Tirana International Film Festival, Home (2020), Alien Worlds (2020), Savage Kingdom (2020), dan Growing up Animal (2021).
Baru-baru ini, project-nya di film dokumenter Island of the Sea Wolves (2022) juga dinominasikan untuk 50th Daytime Emmy Under Outstanding Music and Composition. “Jujur kaget dan bingung. Nggak nyangka, tapi seru karena ini kali pertama masuk nominasi,” katanya.
Dari sekian project, documentary berjudul Home punya kesan tersendiri baginya. “Aku merasa dekat dengan rumah karena banyak pakai suara bambu,” tutur Laurentia.
Bukan hanya TV series dan film, dia juga berperan sebagai komposer musik untuk EP ”Born Again” RAIGN UK X-Factor. Selain itu, dia menyediakan musik orisinal untuk proyek runway Genesis dan Srikandi oleh desainer Indonesia berkelas internasional, Diana Couture. “Dari kecil aku main piano, les gitar juga. Dulu di sekolah kan ada belajar musik gitar, jadi diminta temen-temen buat ngajari gitu,” imbuhnya.
Laurentia mengaku lebih nyaman di belakang layar daripada tampil di depan panggung, sebagaimana pekerjaan yang dia tekuni saat ini. Apalagi setelah melihat besarnya apresiasi yang dia terima atas karyanya.
“Ada anak umur 9 tahun yang aku nggak pernah ketemu, dia nonton show yang aku kerjakan terus kirim e-mail kayak dia termotivasi buat bikin musik juga suatu saat nanti. So cute,” paparnya.
Laurentia tak pernah sedikit pun bermimpi bisa berkarya di Hollywood . Setelah berhasil melewati tantangan pertama sebagai pendatang di negeri orang, dia pun mencari jalan untuk terhubung ke industri film yang lebih besar. “Bisa dibilang, seakan-akan ini tingkat pertama. Saatnya naik ke level berikutnya,” lanjutnya.
Laurentia kini tengah menggarap beberapa project yang masih dirahasiakan. “Ke depan, saya berharap bisa memiliki studio pribadi,” jelasnya. (*/c18/ttg/jgp)


