Wednesday, 22 April, 2026

Lebih Dekat dengan Gresik Movie, Komunitas Sineas Asal Gresik

Kisah Ultras Gresik yang diangkat menjadi film dokumenter membuka kesuksesan Gresik Movie. Komunitas itu terus berkarya membuat film-film pendek yang mengangkat tema seputar Kota Pudak. Mei lalu, mereka diundang untuk mengikuti Festival Film Cannes, Prancis.

GALIH WICAKSONO, Gresik

LEWAT film berjudul Gumintang, Mei lalu Irfan Akbar Prawiro, sutradara film itu sekaligus salah satu pendiri Gresik Movie, menapakkan kakinya di Kota Cannes, Prancis. Mereka mendapat kesempatan untuk berpartisipasi di ajang Festival Film Cannes.

Di kota yang berjarak 11.806 km dari Gresik tersebut, Irfan kembali mengenang perjuangannya 11 tahun silam. Saat itu, dia dengan beberapa rekannya mendirikan Gresik Movie. Sebuah wadah bagi para sineas asal Kota Pudak untuk berkumpul sembari membuat berkarya.

Proyek pertama Gresik Movie adalah film dokumenter tentang perjalanan Ultras Gresik. Mereka mendokumentasikan kisah suporter tim pendukung Gresik United. Delapan orang mengerjakan film tersebut.

“Setelah film rampung, kami berkeliling mengenalkannya ke kampung-kampung,” ucap Irfan.

Film Ultras Gresik menjadi pembuka pintu bagi karya lainnya. Salah satunya Gumintang. Itu adalah film ke-32 garapan Gresik Movie. Film pendek tersebut sukses menyabet penghargaan Ide Cerita Terbaik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Durasi Gumintang hanya 12 menit. Ide ceritanya sederhana, namun unik. Film itu berkisah tentang seorang anak yang mendapatkan tugas sekolah untuk mencari bentuk bintang.

Sayangnya, ketika berkali-kali mengamati langit, dia kesulitan melihat bintang. Film itu dibuat sebagai bentuk kepedulian Gresik Movie pada lingkungan Gresik. Bintang yang tidak terlihat tersebut menunjukkan polusi udara.

Nah, untuk menjaga kualitas udara, warga dan pemerintah harus saling membantu. Selepas menjadi pemenang di event Kemenparekraf, Gumintang semakin dikenal. Puncaknya, mereka diundang untuk mengikuti Festival Film Cannes.

Irfan tak mengira putaran roda nasib membawanya ke Prancis. “Festival Film Cannes adalah salah satu festival paling penting di dunia. Sebagai seorang pembuat film pendek yang berkegiatan di komunitas, saya takut bermimpi bisa pergi ke sana. Demikian minder dan merasa masih jauh sekali untuk berada di kota tersebut walau sekadar datang menonton film,” kata Irfan.

Selama 10 hari Irfan berada di Cannes. Pria 30 tahun itu mendapatkan pengalaman berharga. Selepas dari Cannes, Irfan berencana membuat kegiatan serupa di Gresik. “Saya ingin membuat Festival Film Gresik,” paparnya.

Jumlah anggota Gresik Movie terus bertambah. Saat ini mencapai 35 orang. Dari karya Gresik Movie, nama Kabupaten Gresik kini dikenal dunia.

“Setahu kami, dulu tidak ada film yang menceritakan Gresik. Akhirnya, kami berfokus pada film yang bercerita tentang Gresik hingga sekarang,” kata Irfan. (*/c6/aph/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru