Monday, 20 April, 2026

Luluk Diana Tri Wijayana, Juara Dunia Angkat Besi Remaja

Luluk Diana Tri Wijayana melawan stigma tubuh pendek dan rasa iri kepada kawan sebaya yang santai bermain untuk merebut gelar juara dunia angkat besi remaja. Dia dinilai punya potensi bersaing di Olimpiade, tapi induk organisasi di pusat kudu memberi perhatian.

RIZKA PERDANA PUTRASurabaya

USIA Luluk Diana Tri Wijayana baru 8 tahun saat itu ketika sebuah pertanyaan mengentaknya, ”Mau nggak latihan angkat besi? Mau nggak jadi juara dunia?”

Yang bertanya Ita Fauziah, istri Samsuri, pemilik klub Bina Satria di Desa Sooka, Kecamatan Punung, Pacitan, kabupaten di ujung selatan Jawa Timur. Anak pasangan tersebut, Wahyu Fajar Fauzsam, kebetulan teman dekat Luluk di SD Negeri 1 Sooka.

Di kediaman sahabatnya itulah Luluk pertama mengenal angkat besi. Menyaksikan langsung atlet-atlet binaan Bina Satria berlatih. Sebagai penyuka olahraga sedari kecil, Luluk sebenarnya langsung tertarik dengan angkat besi. Tapi, ada aral besar menghadang: kedua orang tuanya, Misno dan Ponijem, tak mengizinkan.

Selain karena Luluk masih terlampau belia, mereka menilai perempuan tak seharusnya berolahraga ”aneh-aneh” macam angkat besi. “Ibu bilang, seperti kata orang-orang, bisa jadi pendek,” kata Luluk.

Itu salah satu stigma yang kerap dihadapi para lifter di awal-awal karier. Selama tiga tahun lamanya, tepatnya hingga menginjak usia 11 tahun, Luluk pun tak kunjung mendapat izin. Meski begitu, rasa penasaran putri pasangan petani rumput tersebut tidak pudar.

Justru sebaliknya, menginjak kelas VI SD, keinginannya untuk berlatih angkat besi kian memuncak. Luluk pun mulai curi-curi waktu latihan angkat besi. “Bilangnya kerja kelompok, padahal latihan,” ucap Luluk, kemudian tertawa.

Namun, Luluk sadar tak selamanya bisa curi-curi waktu latihan di klub atau sasana yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pacitan Kota tersebut. Apalagi, dia benar-benar serius ingin berlatih angkat besi. Putri ketiga dari empat bersaudara itu pun mulai memberanikan diri bicara secara langsung kepada kedua orang tua.

Awalnya, sang ayah dan ibu masih berpikir berkali-kali. Namun, melihat tekad Luluk yang begitu besar, Misno dan Ponijem luluh. Tapi, dengan syarat: Luluk harus bersungguh-sungguh ketika latihan. “Harus serius, yakin, dan tidak boleh main-main,” ujar Luluk soal pesan kedua orang tuanya.

Nasihat tersebut bahan bakar Luluk. Mulanya, dia berlatih teknik dasar dengan bambu. Latihan tersebut dia jalani sampai setengah tahun. Baru setelah itu dia mulai mendapat latihan angkat beban sebenarnya. Seluruh proses latihan tersebut dia jalani dengan satu kunci: disiplin.

“Dia selalu maksimal. Kalau yang lain ada yang kami tuntut empat hari latihan, datangnya tiga hari. Ada kelebihan disiplin di diri Luluk,” ungkap Samsuri, pelatih Luluk di Bina Satria.

Sampai tiba saatnya, Luluk mengikuti pertandingan untuk kali pertama, yaitu Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim di Madiun pada Desember 2016. Berstatus debutan, Luluk masih bisa meraih posisi keempat di nomor 44 kg.

Beberapa bulan kemudian, Luluk meraih medali emas pertama di Kejuaraan Satria Remaja I Bandung 2017. Persisnya satu emas dan dua perak, sebuah capaian yang bagi Luluk sangat penting.

Sebab, siswi SMAN Punung itu akhirnya bisa membuktikan kepada kedua orang tua bahwa dirinya mampu berprestasi di angkat besi. “Itu jadi awal orang tua memberikan izin sepenuhnya,” kata Luluk.

Seperti besi beresonansi, prestasi demi prestasi lain pun mengikuti. Di tahun yang sama, dara kelahiran Pacitan, 9 Agustus 2005, itu berhasil memperbaiki catatannya di Kejuaraan Satria Remaja II Yogyakarta dengan perolehan tiga medali emas. Dia juga kembali mendapat tiga medali emas di Kejurprov Jatim di Malang 2018 serta di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI 2019 di Bojonegoro.

Seluruh kesuksesan tersebut diperoleh dengan mengorbankan satu hal: masa bermain yang terbatas. “Tidak ada sama sekali bahkan,” kata Luluk. “Kadang iri juga lihat teman-teman yang bisa agak santai. Sedangkan saya tiap sore harus latihan untuk persiapan pertandingan,” ungkapnya.

Luluk juga harus melawan rasa malas dan bosan yang ada dalam diri. “Rasa bosan pasti ada. Karena tiap hari yang dipegang cuma besi, hahaha. Tapi, saya bikin enjoy, lebih mikir masa depan,” ujarnya.

Kalau benar-benar jenuh, baru Luluk berenang. Meski tidak benar-benar jago, berenang membuat badan dan pikirannya segar kembali. Luluk percaya, berbagai pengorbanan yang dilakukannya saat ini pasti berbuah hasil di masa depan. “Tidak apa-apa masa bermain saya terampas oleh latihan, daripada masa depan saya. Jadi, seperti istilah sekarang sakit dahulu, besok bersenang-senang kemudian,” tuturnya.

Bahkan, saat ini pun Luluk telah mulai memetik buah kerja kerasnya itu. Tahun lalu, misalnya, dia menyabet tiga emas Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior di Jakarta. Tampil di nomor 49 kg, Luluk meraih total angkatan mencapai 163 kg.

Capaian tersebut lebih baik daripada yang ditorehkan Alvarez Lopez, peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia Angkat Besi Remaja 2021 di Arab Saudi. Alvarez saat itu mencatatkan total angkatan 161 kg.

Dari situ PABSI Jatim semakin yakin untuk memberangkatkan Luluk ke Kejuaraan Dunia Remaja 2022 di Meksiko. Apalagi, 2022 merupakan tahun terakhir Luluk bisa mengikuti Kejuaraan Dunia Remaja. “Kami lihat Luluk sangat berpotensi meraih medali di kejuaraan dunia. Jadi, kami bertekad harus memberangkatkan Luluk tahun 2022,” kata Ketua PABSI Jatim Jeffry Tagore.

Untung, meski belum mendapat dukungan pendanaan dari PB PABSI, Luluk tetap bisa berangkat mandiri. Pengidola Sri Wahyuni, lifter peraih perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016, itu akhirnya bisa berangkat ke Leon, Meksiko, pada Juni lalu dengan dukungan PABSI Jatim bersama PABSI Pacitan.

Hasilnya sangat manis. Luluk meraih gelar juara dunia remaja di nomor 49 kg dengan total angkatan sebesar 170 kg. Dengan perincian snatch 75 kg serta clean & jerk 95 kg. Catatan tersebut kembali dipertajam Luluk di bulan yang sama pada Porprov Jatim VII di Situbondo. Tampil di kelas 55 kg, Luluk meraih total angkatan 176 kg.

Perkembangan Luluk selama kurang dari satu tahun terakhir terhitung sangat pesat. Dia mampu menambah total angkatan terbaiknya sampai 15 kg. “Peningkatan 10 kilo dalam satu tahun ini sangat luar biasa. Memang kalau masih remaja menuju junior pertambahannya bisa cepat,” kata Jeffry.

Nah, Luluk tentu tidak ingin berhenti sampai di level Kejuaraan Dunia Remaja. Sesuai jenjang yang ada, Luluk tahun depan seharusnya mengikuti jejak seniornya, Windy Cantika, untuk tampil di Kejuaraan Dunia Junior. Windy pada Mei lalu meraih juara dunia junior di nomor 49 kg dengan total angkatan 185 kg. “Setelah ini targetnya kategori junior. Semoga bisa memberikan yang terbaik,” harap Luluk.

Jeffry menilai, tidak hanya Kejuaraan Dunia Junior, Luluk juga punya potensi bersaing di Olimpiade. Namun, untuk mewujudkan itu, dia berharap Luluk bisa mendapat dukungan dari pusat.

“Kami melihat Luluk punya peluang meneruskan seniornya, Windy Cantika, menjadi peraih medali di Olimpiade. Tinggal bagaimana PB PABSI memantapkan Luluk agar berprestasi di tingkat dunia,” tutur Jeffry.

Sembari menunggu perhatian dari pusat, Luluk terus disiplin berlatih. Setidaknya kini setiap kali bertemu Ita Fauziah, dia bisa percaya diri. Dia sudah juara dunia remaja sekarang, sudah menjawab pertanyaan Ita bertahun-tahun lalu. (*/c9/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru