Tuesday, 28 April, 2026

Mengenal Tanaya Aprilia Giofian, Remaja Pegiat Lingkungan SMPN 22

Berawal dari melihat sang ibu dan nenek, Tanaya Aprilia Giofian, 12, tertarik untuk mengembangkan sabun dan sampo dari bahan-bahan alami. Dia memilih tumbuhan yang masih jarang ditanam orang awam, yakni lerak dan porang.

 DEBORA DANISA SITANGGANG, Surabaya

 SEJAK kelas V SD Tanaya Aprilia Giofian berkecimpung di dunia lingkungan. Ia mengikuti pemilihan duta lingkungan tingkat SD kala itu. Kini, setelah naik ke SMP, Tanaya kembali menantang dirinya menjadi duta lingkungan dengan mengikuti Pemilihan Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2022. Proyeknya kurang lebih mirip dengan yang dia lakukan saat SD. Yakni, mengembangkan produk dari tanaman lerak.

Bedanya, dulu Tanaya membuat sampo dari lerak dan jerami. Produk itu bahkan punya nama Klejami. “Saya mendapat inspirasi dari nenek. Dulu nenek saya selalu keramas menggunakan lerak karena mengandung saponin,” jelas Tanaya. Saponin adalah zat yang dapat menghasilkan busa alami dan ramah lingkungan. Nah, kali ini Tanaya membuat sesuatu yang masih berhubungan dengan mandi. Yakni, sabun.

Bahan utamanya tetap lerak, tetapi ditambah dengan tanaman lain, yaitu porang. Porang merupakan tanaman liar yang kerap ditemukan tumbuh subur di Surabaya. Tanaya mendapatkan banyak bahan baku porang dari Kedung Cowek.

Dia juga menggunakan tepung porang yang dijual. “Porang mengandung zat glukomanan yang berfungsi mengurangi kusam pada kulit dan membuat wajah jadi lebih lembap,” ungkapnya.

Tanaya menggunakan tanaman porang karena belum banyak orang yang mengetahui manfaatnya. Porang hanya dikenal sebagai tanaman liar. Dia pun ingin konsumen yang menggunakan produknya bisa merasakan manfaat lebih dari tanaman tersebut.

Bahkan, Tanaya membuktikan sendiri khasiat sabunnya yang berbahan baku porang. Sebagai remaja pegiat lingkungan, Tanaya aktif mengikuti berbagai kegiatan luar ruangan. Termasuk mengikuti jambore nasional. Kegiatan tersebut ternyata membuat kulitnya jadi rusak dan bruntusan parah. “Wajah saya break out parah ketika ikut jambore nasional. Tapi, saya terbantu karena menggunakan produk saya sendiri. Wajah jadi membaik daripada sebelumnya,” tutur Tanaya.

Sabun lerak dan porang Tanaya dibuat dengan menggunakan garam murni untuk mengawetkan sabun dan pandan sebagai aroma pengharumnya. Proses pembuatannya masih bersifat tidak terbuka karena diikutkan lomba Pemilihan Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2022. Meski demikian, Tanaya terbuka untuk proses membudidayakan tanaman lerak dan porang.

Tanaman porang memang cukup mudah didapatkan. Namun, lerak terbilang sulit. Bahkan, itu menjadi kendala utama pada saat awal-awal pembuatan sampo dan sabun. Kebanyakan tanaman lerak tumbuh di hutan-hutan di desa. Berangkat dari kendala tersebut, Tanaya pun berinisiatif menjadikan lingkungan tempat tinggalnya di Menanggal sebagai kampung adopsi budi daya tanaman lerak dan porang.

“Saya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, ayo budi dayakan tanaman lerak. Budi dayanya memang susah-susah gampang, makanya akan saya bimbing,” tuturnya.

Tanaya menanam sekitar 500 polybag tanaman lerak di rumahnya. Dia berharap, dengan program kampung adopsi itu, akan semakin banyak lerak yang dihasilkan sehingga bisa membantu produksi sabunnya. “Harapannya nanti bisa mencapai ribuan polybag,” lanjutnya.

Inisiatif Tanaya itu disambut baik oleh warga. Ketua RW 04, Kelurahan Menanggal, Trimurti Ekho Sutiyono mengungkapkan, warganya memang kerap memiliki ide-ide untuk mengembangkan kampung tempat tinggal mereka itu. Ketika mendengar ide Tanaya tentang kampung adopsi, ditambah dengan niat Tanaya turun langsung membimbing warga, Ekho pun memberikan support penuh. “Kita punya lahan kosong 26 x 10 meter. Insya Allah lahan itu akan kita pakai untuk menanam lerak dan porang,” jelas Ekho. (*/c7/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru