Sunday, 19 April, 2026

Menyoal Ketidakhadiran Ayah dalam Pola Pengasuhan Tradisional

Hari Anak Nasional diperingati tepat 23 Juli. Selain pemenuhan hak-hak dasar anak, pola pengasuhan yang ideal masih menjadi pekerjaan rumah terbesar pemerintah. Akankah masalah klasik itu kembali mewarnai peringatan Hari Anak Nasional tahun depan dan tahun-tahun mendatang?

PSIKOLOG anak, remaja, dan keluarga Roslina Verauli mendefinisikan absent father atau fatherless sebagai kondisi saat anak tidak merasakan kehadiran ayah dalam hidupnya. Baik itu karena meninggal dunia ataupun semata tidak pernah hadir secara fisik.

“Dampak ketidakhadiran karena ayah meninggal atau ayah masih hidup itu berbeda. Lebih buruk pada anak yang sadar ayahnya ada, tapi nggak pernah hadir,” ujarnya kepada Jawa Pos pada Jumat (21/7).

Idealnya, seorang anak diasuh oleh dua figur penting dalam keluarga: ayah dan ibu. Namun, faktanya, banyak ayah yang menganut nilai-nilai tradisional dalam pola pengasuhan. Yakni, ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan ibu bertanggung jawab atas seluruh kegiatan rumah tangga. Termasuk mengasuh dan mendidik anak.

Ada juga keluarga yang menerapkan prinsip egaliter, tapi pada praktiknya sang ayah masih kolot. Ayah bekerja, ibu bekerja, tapi hanya ibu yang terlibat aktif dalam pengasuhan dan urusan rumah.

Mirisnya, menurut Vera, sapaan Roslina Verauli, perilaku seperti itu turun-temurun. Ayah yang melanggengkan nilai pengasuhan tradisional biasanya adalah yang tumbuh dalam keluarga dengan family value sama. Karena tidak pernah merasakan kehadiran sang ayah dalam masa pertumbuhannya, si anak yang kemudian tumbuh menjadi ayah tersebut juga tidak tahu harus bagaimana menjalankan perannya sebagai ayah.

“Ini sering saya temui. Dan jadi turun-temurun, lintas generasi,” ucapnya.

Faktor lain yang membuat fenomena fatherless kian lestari adalah isu emosional personal. Secara tradisional, ayah selalu lebih terpusat pada kegiatan di luar rumah ketimbang urusan-urusan di dalam rumah. Padahal, peran ayah dan ibu sama pentingnya, sama banyaknya, dan sama kompleksnya.

Vera menegaskan bahwa ada hal-hal yang tidak mampu diajarkan oleh ibu, tapi bisa diajarkan oleh ayah. Begitu juga sebaliknya. Itu berkaitan dengan peran gender ayah dan ibu. Secara biologis ayah adalah laki-laki dan ibu adalah perempuan. Sedangkan secara psikososial, ayah memberikan contoh figur maskulin dan ibu teladan figur feminin.

“Aspek feminin dan maskulin itu nggak bisa diajarin lewat ceramah, baca buku, atau lainnya. Itu nggak bisa,” tegasnya. Sebab, penghayatan maskulin pada anak laki-laki maupun peran gender feminin dalam penghayatan anak perempuan hanya berkembang ketika anak mengamatinya secara langsung. Yakni saat anak terlibat dalam interaksi pengasuhan dengan ayah dan ibu sehari-hari.

Psikolog Klinis anak dan keluarga Tika Bisono mendeskripsikan kondisi fatherless secara lebih sederhana. Menurut dia, mereka yang kurang beruntung dalam merasakan bonding psikologis dengan ayah masuk kategori fatherless. “Dia tahu sang ayah secara fisik masih ada, tapi dia tidak merasakan kehadirannya,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos.

Anak-anak usia remaja atau yang sekarang beranjak dewasa biasanya menggambarkan fatherless dengan ungkapan ”nggak deket aja”. Ketika ditanya alasannya, jawaban mereka biasanya ”ya gitu deh” atau ”ya nggak deket aja”. Saat ditanya kangen atau tidak dengan ayah, template jawaban yang mereka gunakan adalah ”biasa aja tuh”.

Sebagian yang lain memilih untuk menghindari obrolan atau kegiatan yang berhubungan dengan ayah. Misalnya, ketika ada teman sedang ngobrol tentang bapaknya yang seru, dia akan pura-pura pergi. Tika menyebut aksi menghindar itu sebagai bagian dari denial untuk menutupi kerinduannya pada sosok ayah. Itu adalah bentuk defense mechanism mereka. “Kalau sudah seperti itu, you need professional help. Jangan ditangani sendiri,” sambungnya.

Dampak fatherless biasanya baru disadari saat anak beranjak remaja, bahkan dewasa. Begitu sadar, yang bersangkutan harus segera memperbaikinya. Dengan demikian, dia tidak akan mewariskan kondisi itu kepada anak-anaknya. “Kalau kataku, kayak lagunya Coldplay. Fix it. Fix you, fix him,” bebernya.

Memperbaiki fatherless tidaklah mudah. Perlu motif yang sangat kritis untuk membangun kembali broken relationship antara ayah dan anak atau broken encounter yang ada. Butuh modal besar untuk legawa dan mengesampingkan ego. Kadang mereka butuh bantuan pihak lain untuk membuka kesadaran bahwa fatherless bisa diperbaiki meskipun prosesnya tidak singkat.

“Bisa diperbaiki nggak? Of course semua yang twisted itu bisa diurai. Siapa bilang nggak bisa?” tegasnya.

Senada dengan Tika, Vera pun menegaskan bahwa fatherless bisa dihentikan dan bisa diantisipasi. Anak-anak yang kehilangan ayah karena meninggal dunia atau bercerai bisa mendapatkan figur maskulin dalam keluarga besar yang dihadirkan oleh ibu. Bisa paman atau kakek.

Opsi lainnya adalah dengan melibatkan anak dalam kegiatan yang terdapat figur maskulin dewasa yang sehat dan hangat.

Peran ayah dalam pola pengasuhan tiap keluarga sangatlah penting. Ketidakhadiran ayah untuk jangka waktu lama (atau mungkin selamanya) berdampak serius terhadap pembentukan karakter anak. Yang jelas, anak menjadi attention seeker atau love seeker dan respect seeker.

Anak-anak perempuan yang tumbuh dalam kondisi fatherless akan terus mencari sosok ayah. Akibatnya, mereka rentan terjerumus dalam hubungan yang toksik. Mereka juga menjadi mudah dimanipulasi oleh pasangan. Sebab, mereka rela rugi asalkan bisa merasakan kasih sayang tak pernah didapatkan dari sosok ayah.

“Efek klinisnya lagi, ketika mendapatkan kasih sayang hakiki, maka dia mulai berpikir untuk menjebak pasangannya agar tidak hilang seperti bapaknya yang ngilang. Dari sini kemudian munculnya sifat posesif, dominan, menjajah, dan lainnya. Padahal, di balik itu hanya ingin menjaga apa yang tidak pernah didapat,” urai Tika Bisono.

Pada anak-anak lelaki, tumbuh tanpa ayah membuat mereka cenderung gila respek. Tak pernah mendapat pujian dari sang ayah membuat mereka haus pujian dari orang lain. Selanjutnya, mereka akan berjuang mati-matian untuk tetap berada di level terbaik itu. Secara tak sadar, mereka pun menjadi perfeksionis. “Kenapa? Karena ingin terus dipuji. Toleransi pada kekurangan dan kegagalan jadi nol. Imbasnya jadi otoriter. Dihargai jadi faktor kritis untuknya,” tegasnya.

Terpisah, Roslina Verauli menyatakan bahwa sexual debut alias aktivitas seksual perdana dini pada anak perempuan juga merupakan father issues. Yakni, dampak dari fatherless. Remaja perempuan yang fatherless tidak memiliki acuan tentang kedekatan, cinta, dan kasih sayang terhadap lawan jenis dari sosok maskulin sang ayah. Akibatnya, dia tidak bisa membedakan mana kasih sayang dan hasrat seksual.

“Kenapa? Karena ketika ayah nggak hadir, anak perempuan jadi craving. Jadi hunger, lapar akan kasih sayang, sentuhan, dan validasi dari sosok maskulin,” jelas penulis buku Teenager 911 tersebut. (mia/c9/c17/hep/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru