Monday, 20 April, 2026

Miliki Surga Wisata yang Harus Dikunjungi

Jelajah Nusa Wisata Bahari Jawa Timur dimulai. Selama empat hari dengan menempuh jarak 551,04 km, Jawa Pos berkesempatan mengarungi lautan dengan kapal pinisi Flores Utama Indah. Digempur angin kencang dan ombak tinggi.

 SEPTIAN NUR HADI, SURABAYA

 DERU mesin kapal Flores Utama Indah (FUI) telah menyala. Tali kapal pinisi yang terikat di Dermaga Jamrud Utara, Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN), dilepas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Sinarto, Senin (14/3) pagi. Itu menjadi penanda dimulainya Jelajah Nusa Wisata Bahari Jawa Timur.

Dengan menumpang kapal pinisi, perjalanan menempuh jarak sepanjang 342,40 mil atau 551,04 km. Rutenya Surabaya menuju lima pulau di Madura. Mulai dari Pulau Gili Pandan, Pantai Sembilan Gili Genting, Gili Iyang, Pulau Kangean, Pulau Sitabok, Pulau Selarangan, hingga berakhir di Pulau Tabuhan, Banyuwangi.

Jarak yang cukup jauh itu ditempuh empat hari tiga malam. Mulai Senin (14/3) hingga Kamis (17/3). Ada 15 peserta yang mengikuti Ekspedisi Jelajah Nusa Wisata Bahari Jatim itu. Selain Disbudpar Jatim, ada beberapa media serta Duta Pariwisata Jatim. Agen travel juga ikut serta. “Hari ini (Senin) cuaca sangat bersahabat. Kayaknya perjalanan akan terasa nyaman. Tidak perlu ada yang khawatir,” kata Abu Bakar, nakhoda kapal sambil memegang kemudi kapal, Senin (14/3).

Penjelasan itu membuat seluruh peserta bernapas lega. Sebab, pelayaran ke beberapa pulau melalui jalur laut dengan menggunakan kapal pinisi merupakan pengalaman pertama bagi seluruh peserta. Tak terkecuali kami berdua. Selain saya, Jawa Pos menerjunkan Alfian Rizal, fotografer muda di Jawa Pos.

Saya melihat Alfian yang begitu bersemangat dalam keberangkatan itu. Apa pun momennya dia foto. Semua yang ada di kapal juga tidak ketinggalan dijepretnya.

Tak terasa, perjalanan telah menempuh 63 mil. Setelah memakan waktu sembilan jam, saya pun sampai di tujuan pertama. Yaitu, di Gili Pandan, Kabupaten Sumenep, berlanjut ke pulau-pulau lainnya yang menjadi destinasi.

Keindahan itu pun berhasil menghilangkan rasa penat atas hirukpikuk selama beraktivitas di Surabaya. Jawa Timur ternyata memiliki surga wisata yang harus dikunjungi.

Sekitar pukul 21.00 WIB, perjalanan dari Pulau Selarangan menuju Pulau Tabungan dimulai. Itu merupakan perjalanan terpanjang di ekspedisi tersebut. Jaraknya 72 mil dan menempuh waktu normal selama 9 jam.

Namun ketika berada di laut lepas, cuaca terasa berbeda. Desir angin terasa lebih kencang. Bahkan, saking kencangnya, kain penahan angin di area makan dibentangkan. Terasa sekali ombak menghantam-hantam lambung kapal dari segala penjuru. Di situlah saya mulai cemas. Guncangan terasa sekali.

Malam kian larut, sejumlah peserta perjalanan memang mulai beristirahat. Tapi, malam itu saya sulit sekali memejamkan mata. Guncangan ombak sulit sekali menidurkan saya. Terus terang, saya tidak berani untuk mengecek situasi yang terjadi di luar.

Bahkan, ke kamar mandi untuk buang air kecil pun saya tahan berjam-jam lamanya. Saya tidak sempat menanyakan apakah peserta lain merasakan kecemasan yang sama. Beruntung, saat subuh gempuran ombak mulai mereda.

Rasa penasaran yang terjadi pada malam hari perlu saya tanyakan kepada nakhoda Abu Bakar. Setidaknya mengapa itu bisa terjadi. Sudah biasa ataukah memang cuaca sedang buruk-buruknya. “Semalam angin memang begitu kencangnya. Bahkan, kecepatannya mencapai 8 knot. Angin yang kencang itu yang membuat ombak naik. Terkadang harus melalui pertemuan arus laut,” terangnya.

Agar kondisi kapal tetap normal, Abu Bakar memilih tidak melawan gelombang. Melainkan mengikuti arah gelombang. Haluan kapal menyerong sedikit mengikuti arus gelombang. Untuk mengimbangi kapal, sebagian layar dibuka. “Selain berfungsi membuat kapal stabil, layar berfungsi untuk menambah kecepatan laju kapal,” ucap pria berusia 47 tahun itu.

Abu bakar mengemudikan kapal pinisi FUI sejak 2017. Biasanya, kapal berlayar di area Kepulauan Labuan Bajo.

Rupanya, pelayaran mengelilingi surga wisata Jawa Timur baru kali pertama dilakukan Abu. Termasuk mendatangi Pulau Tabuhan di Banyuwangi. “Ini perjalanan yang pertama juga. Jadi, masih meraba-raba dan membuka jalur baru,” ujarnya.

Untuk mengetahui jalur yang tepat dan aman, Abu Bakar hanya mengandalkan GPS dan pengalamannya. Sesekali dia keluar dari kemudi hanya untuk mengetahui arah angin. Kapal melaju dengan batas kecepatan di angka 7,3 knot. Meski bisa melaju lebih cepat, dia tidak mau gegabah. Abu ingin tahu jalur perairan yang dilaluinya. (c6/git/jpg/bersambung)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru