TARAKAN – Nilai ekspor produk perikanan di Kaltara menurun dibandung tahun 2021. Tercatat, pada tahun 2021 nilai ekspor produk perikanan sebanyak Rp 1,9 triliun. Sementara tahun ini hanya Rp 1,4 triliun.
“Tapi tidak perlu ragu. Ini bisa turun dan naik, memang ada faktor global pandemi Covid-19. Kami dari pusat selalu mendorong untuk meningkatkan ekspor kelautan perikanan di Kaltara. Kami secara nasional juga meningkat ditahun ini,” jelas Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM) dan Keamanan Hasil Perikanan, Pamuji Lestari disela-sela kunjungannya di kantor BKIPM Tarakan, Sabtu (10/12) lalu.
Disinggung soal turunnya harga produk perikanan di Kaltara, ia menegaskan, karena terjadi kelangkaan produk perikanan di semua negara. Namun karena adanya konflik Rusia dan Ukraina, produk perikanan di Indonesia sangat dibutuhkan.
Menanggapi harga udang di Kaltara yang menurun, menurutnya, harus ada penetapan standar harga. Mesti tidak diberlakukan di semua daerah, paling tidak harga udang di Kaltara tidak terlalu rendah dari daerah luar.
“Walaupun pengusaha di Kaltara ada yang mengirim keluar negeri, seperti Amerika dan Malaysia, saya kira harga ini dinamik. Misal di sini harga udang Rp 30 ribu per kg dan di Balikpapan Rp 40 ribu per kg, tidak begitu. Tergantung pasar juga. Harga kan ditentukan oleh pemilik pasar,” ungkapnya.
Nelayan maupun petambak diharap jangan terlalu risau, terkait permasalahan harga udang. Namun tetap meningkatkan ekspor serta petambak harus untung. Begitu juga dengan kualitas produk perikanan yang harus terus terjaga.
Sebab di konstelasi global saat ini, tidak hanya melihat banyaknya produk perikanan yang dibeli. Namun melihat biosecurity dan biosafety atau pencegahan mutu dan keamanan hasil perikanan.
“Jadi harus dicek betul. Produk perikanan yang keluar negeri, ceklistnya harus jelas. Ada juga mitra yang menerima produk kita dan kita juga menerima impor dari mereka. Ini sebenarnya ada win-win solution,” tegasnya.
Ia yang baru pertama kali mengunjungi perbatasan di Kaltara mengakui, hasil perikanan berkembang baik. Bahkan Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan masuk dalam Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT).
“Kami dari Kementerian Kelautan Perikanan mendukung upaya-upaya pembangunan perbatasan. Apalagi ada Inpres 1 Tahun 2019 (tentang Percepatan Pembangunan 11 Pos Lintas Batas Negara Terpadu dan Sarana Prasarana Penunjang Dikawasan Perbatasan),” tuturnya. (kn-2)


