Monday, 13 April, 2026

Pengerjaan Tol Paspro dan Probowangi Harus Memindahkan 5 Makam

Menyusul jalan tol Pasuruan–Probolinggo (Paspro) seksi IV, jalan tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) juga mulai dibangun. Ada aturan khusus untuk meratakan tanah di kawasan sekitar PLTU Paiton.

EKO HENDRIProbolinggo

PINTU gerbang tol itu berdiri gagah meski belum ada alat transaksi yang terpasang. Dari sanalah nanti tol Jawa yang membentang mulai Banten tersambung sampai titik paling timur di Jawa Timur: Banyuwangi.

Sabtu (4/2) dua pekan lalu saat Jawa Pos ke sana, tampak sejumlah pekerja masih merampungkan pekerjaan. Senin (6/2) groundbreaking (peletakan batu pertama) tol Probowangi tahap I ruas Probolinggo–Banyuwangi dilakukan dengan dihadiri, antara lain, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) M. Basuki Hadimuljono serta Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hedy Rahadian.

Sabtu dua pekan lalu itu, setelah melihat hulu tol Probowangi, Jawa Pos bergerak menuju hilirnya di Besuki, Kabupaten Situbondo. Pencarian titik ini lebih sulit.

Sebab, jalan tol yang bakal dikelola Jasa Marga Group itu baru mulai di pekan berikutnya. Sama sekali belum ada tanda-tanda proyek di kawasan kecamatan yang dulu merupakan kawedanan tersebut.

“Saya juga masih bingung. Kira-kira kapan saya harus pindah dari rumah ini,” kata Abdullah, warga Desa Bloro, Kecamatan Besuki, salah seorang warga terdampak proyek pembangunan jalan tol Probowangi.

Nama Abdullah disebut warga yang sempat ditanyai Jawa Pos dalam upaya pencarian. “Memang sempat menolak. Namun, akhirnya saya menerima ganti rugi,” ujar Abdullah saat ditemui di rumahnya.

Pria yang berdinas di kepolisian itu bercerita bahwa rencana pembangunan tol sudah tersiar lama. Ada sosialisasi. Namun, wacana ganti ruginya baru menguat tiga tahun terakhir.

Saat mau dibeli, Abdullah sempat menolak permintaan tim pembebasan lahan. Alasannya banyak. Selain sudah kerasan, dia nggandoli usaha istrinya.

Sejak 1998, istrinya yang berprofesi sebagai bidan membuka praktik di rumah. Pasiennya banyak.

Selain Abdullah, ada sekitar delapan orang lagi yang tanahnya kena imbas pembangunan jalan tol. Namun, belum semua prosesnya rampung. Ada yang masih terganjal persoalan waris. “Masih menunggu keluarga. Belum klir,” kata Usman, pemilik rumah lain yang tanahnya juga terkena dampak pembangunan.

Abdullah menyebut keberadaan exit toll di kawasan Besuki bakal memudahkan warga bepergian. Di sisi lain, harga lahan juga terkerek. Abdullah sempat kesulitan mencari rumah baru karena harga tanah di kawasan Besuki terus naik.

“Sebelum ada tol, ada sepetak tanah di Desa Langkap (di kecamatan yang sama) yang harganya Rp 650 ribu per meter. Setelah pasti dibangun tol, harganya jadi Rp 1,5 juta per meter. Saya pilih mundur,” ujar Abdullah mengenang pengalamannya.

Di luar soal dampaknya ke harga tanah, tol Probowangi diperkirakan memangkas jumlah kendaraan di jalur reguler Probolinggo–Banyuwangi hingga 50 persen. Begitu pula waktu tempuhnya.

Jalan tol Probolinggo–Banyuwangi ruas Probolinggo–Besuki dapat memangkas waktu tempuh Probolinggo–Besuki. Saat ini waktu tempuh dua lokasi itu sekitar 1 jam 15 menit.

Nanti waktu tempuh bisa terpangkas hingga 30 menit dengan kecepatan rata-rata 80–100 kilometer/jam. Dengan demikian, laju industri dan pariwisata diharapkan ikut tergenjot.

Direktur Utama PT JPB Adi Prasetyanto menjelaskan, pembangunan jalan tol Probolinggo–Banyuwangi terbagi menjadi dua tahap. Tahap I menghubungkan Probolinggo hingga Besuki sepanjang 49,68 kilometer. Tahap II menghubungkan Besuki hingga Banyuwangi sepanjang 125,72 kilometer.

“Jika pembebasan lahan sesuai dengan target, konstruksi untuk pembangunan tahap I ditargetkan selesai pada akhir 2024,” kata Adi.

Adi menambahkan, ruas Probolinggo–Besuki akan memiliki tiga buah simpang susun (SS). Masing-masing adalah SS Kraksaan, SS Paiton, serta SS Besuki.

“Rencana tidak berubah. Namun, diselesaikan dulu sampai Besuki,” ujar pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek jalan tol Paspro seksi IV dan Probowangi seksi I Priyadi saat ditanya terkait kelanjutan tol sampai Banyuwangi.

Untuk tol Paspro seksi IV yang menjadi penghubung ke tol Probowangi, rencananya jalur tersebut dioperasikan saat mudik Lebaran. Tol akan dioperasikan secara fungsional untuk mengurangi kemacetan.

Pengoperasian secara permanen menunggu tarif dan ketetapan pemerintah pasca-Lebaran. Saat ini pembangunan tol Paspro memang dikebut. Misalnya, pengerjaan di sekitar pintu tol Gending. Ada pengecoran di sana. Sebagian pekerja memasang PJU.

Berbeda dengan Gending, kawasan di sekitar pintu tol Probolinggo Timur lebih siap. Simpang susun yang terhubung ke jalan tol Paspro seksi IV sudah terbangun. Papan petunjuk jalan juga terpasang dan tinggal menunggu pengoperasiannya.

Priyadi menambahkan, progres tol Probowangi cukup baik. “Pembebasan lahan dari Gending sampai Besuki sudah 80 persen,” imbuhnya.

Di antara tantangan dalam proses konstruksi, di sepanjang jalur tol Probowangi itu, ada lima makam yang harus dipindahkan. Selain itu, tol tersebut melintasi zona PLTU Paiton.

Ada aturan khusus melaksanakan proyek di kawasan pembangkit listrik. “Untuk meratakan lahan, kami tak bisa pakai dinamit. Harus manual,” jelas Priyadi.

Dia mengatakan bahwa sebagian medan konstruksi tol Probowangi juga area hutan. Perlu upaya serius untuk memasukinya. “Rencananya juga ada jembatan panjang seperti tol Bawen untuk memudahkan pembangunan,” ungkap Priyadi. (*/c19/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru