TARAKAN – Pesawat Bintang Air dengan rute penerbangan Balikpapan-Tawau hilang kontak di perairan Tarakan, sekitar pukul 09.00 Wita, Selasa (20/2).
Kantor SAR Tarakan yang mendata ada 10 orang penumpang dalam maskapai dan langsung melaporkan kecelakaan pesawat udara ke Basarnas Comand Centre. Untuk pengusulan membuka operasi SAR. Setelah itu, SAR Tarakan menurunkan 9 unit kapal, 4 unit transportasi darat serta peralatan SAR.
Akhirnya KN SAR Seta berhasil menemukan posisi pesawat Bintang Air, yang diketahui melakukan pendaratan darurat dan mengalami kebakaran di badan pesawat, sekitar pukul 09.40 Wita. Setelah dipastikan api di pesawat padam, maka semua kapal bergerak melakukan pencarian terhadap korban.
Sebanyak 3 orang ditemukan meninggal dunia dan 7 orang lainnya menderita luka-luka. Mulai dari cidera tulang, hyptermia dan luka bakar. Beruntung, kejadian tersebut merupakan skenario simulasi kecelakaan pesawat yang lost contact di perairan Tarakan.
Kepala Kantor SAR Tarakan Syahril mengatakan, skenario simulasi terdapat Pesawat Udara Bintang Air mengalami lost contact dan jatuh di perairan Tarakan. Informasi kecelakaan pesawat tersebut diterima Kansar Tarakan pada pukul 09.00 Wita melalui Com Center dari Air Traffic Control (ATC) Bandara Juwata Internasional Tarakan, bahwa terjadi lost contact di sekitar perairan Tarakan.
“Untuk evaluasinya kami melihat secara makro, tidak memiliki kendala saat latihan. Jikapun terdapat kekurangan pasti akan kami perbaiki. Tapi tadi kami melakukan skenario dengan sebenar-benarnya dan zero accident,” ujarnya.
Dalam insiden kecelakaan, waktu respons selama 15 menit usai menerima laporan. Mulai dari mencari informasi hingga pergerakan alutsista. Namun untuk tiba di lokasi kejadian, tergantung dari jangkauan dan beratnya medan operasi SAR. “Ini prinsipnya untuk menyamakan persepsi dan pola tindak. Semua unsur potensi sudah paham dengan tugas-tugasnya. Personel kami 70 orang yang diturunkan dan unsur lain 20 personel,” ungkapnya.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas RI Noer Isrodin Muchlisin menegaskan, simulasi ini dilakukan benar-benar mengikuti siklus pencarian dan pertolongan yakni siaga 24 jam. Tujuannya, mempersiapkan kesiapsiagaan seluruh unsur, baik personel dan peralatan guna mengantisipasi kejadian.
“Yang kami simulasikan hari ini merupakan kecelakaan pesawat sipil. Tapi yang kami mainkan sistem SAR yang berjalan, mulai dari mendapatkan informasi dan menyampaikan ke seluruh potensi SAR yang bisa menangani itu,” katanya.
Menurutnya, program simulasi penyelamatan kecelakaan merupakan hal wajib yang harus dilakukan oleh setiap kantor SAR di Indonesia minimal sekali dalam setahun. Dalam persoalan SAR, dikatakan Noer tak bisa dilakukan sendirian. “Dengan wilayah yang sebegitu luas, tidak mungkin bisa kita sendirian. Kita harus bersama-sama, membangun jejaring dengan stakeholder lainnya,” pesannya.
Dalam simulasi tersebut, kantor SAR Tarakan mengerahkan KN SAR Seta 252 Tarakan, RIB 01 Tarakan, RIB 02 Tarakan, RBB Tarakan, Rubber Boat 01, Rubber Boat 02, Rubber Boat 03 dan Rubber Boat 05. Juga melibatkan unsur diantaranta dari TNI, Polri, PMI dan BMKG. (kn-2)


