Semangat dalam melestarikan tari tradisional tak pernah surut dilakukan Fanni Irsyadillah Azka Fuadiyah. Dengan fasilitas seadanya, Fanni mengajari anak-anak Kampung Warna-warni Asemrowo mengasah kreativitas di bidang seni tari.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
TARI tradisional seolah menyatu pada jati diri Fanni Irsyadillah Azka Fuadiyah. Betapa tidak, menari dilakoninya sejak kecil. Berbagai tarian tradisional telah dikuasainya. Misalnya, tari soyong, tari sesonderan, tari sorote lintang, tari jaran dawuk, dan tari rok serok dari Madura.
Belajar tari dilakoni Fanni secara otodidak. Caranya, dia menonton televisi yang menampilkan pertunjukan tari tradisional. “Untuk mendalaminya, aku ikut ekstrakurikuler kesenian di sekolah,” kata Fanni.
Kreativitasnya tersebut mendapatkan respons positif dari pengurus kampung tempat tinggalnya di Jalan Greges, RW 2, Kelurahan Tambak Sarioso, Asemrowo, yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Warna-warni.
Setiap kali ada kegiatan, Fanni diminta untuk berpartisipasi. Yaitu, menampilkan tarian tradisional.
Selain di lingkungan tempat tinggalnya, Fanni kerap diundang untuk tampil dari kampung ke kampung. Itu membuatnya sangat bangga.
Lewat penampilannya, Fanni berhasil menghibur warga. Hobi tari tersebut semakin didalaminya hingga beranjak dewasa.
Seiring waktu, tepatnya pada 2017, saat usia menginjak 21 tahun, Fanni justru merasa resah di balik prestasi yang dimilikinya. Dia khawatir terhadap generasi penerus kesenian tari tradisional pada tahun-tahun mendatang. Apakah ada penerusnya atau sebaliknya.
“Agar (kesenian tari) tidak punah, aku memutuskan untuk mengajar,” ucap perempuan yang juga guru SMP Barunawati itu.
Sistem pembelajaran dilakukan secara gratis. Dibantu oleh pengurus kampung, dari pintu ke pintu Fanni mengajak anak-anak setempat untuk belajar tarian tradisional. Pada awalnya, ajakannya belum mendapatkan respons positif. Buktinya, pada masa itu pesertanya hanya segelintir.
Namun baginya, itu bukanlah suatu masalah. Selain masih permulaan, pembelajaran belum dilakukan di sanggar. Fanni pun memanfaatkan lapangan badminton sebagai tempat latihan. Belajar tari dilakukan setiap Jumat, pukul 19.00-22.00 WIB.
Untuk memberikan semangat, mereka kerap tampil di panggung pergelaran. Mulai festival di permukiman penduduk, perusahaan-perusahaan, hingga instansi pemerintah. Untuk perlengkapan, semua dilakukan secara swadaya.
Melalui karang taruna, mereka ikut membantu dalam menyediakan perlengkapan. Misalnya, kostum serta peralatan tata rias. Yang pasti, peserta tinggal memakainya. Tidak direpotkan dalam penyediaan perlengkapan. Gemuruh tepuk tangan penonton dalam setiap penampilan membuat para peserta lebih bersemangat.
Kini jumlah peserta yang ikut terus bertambah. Setidaknya ada dua kelompok. Yakni, kelompok anak-anak dan orang dewasa.
Dengan kegiatan tersebut, Fanni berhasil mengubah kebiasaan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. (*/c6/git/jpg)


