TANJUNG SELOR – Perayaan Imlek tahun ini ada terlaksana pada 22 Januari nanti. Suasana gemerlap menyambut Tahun Baru Imlek pun sudah terasa. Khususnya sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga di depan Klenteng.
Bagi etnis Tionghoa, ada tradisi dalam menyambut perayaan Imlek. Terutama pada hari pertama, warga Tionghoa dilarang menyapu. Hal tersebut pun dibenarkan Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Bulungan Hendy Dermawan.
“Hari pertama tradisi kita dilarang menyapu. Artinya agar keberuntungan dan nasib baik tidak terbuang saat hari pertama itu. Tidak boleh menggunakan barang-barang tajam saat perayaan. Maknanya agar senantiasa memperoleh kemudahan dan kesejahteraan,” jelas Hendy, Jumat (20/1).
Perayaan Imlek tahun ini berbeda dari dua tahun terakhir. Pasalnya, pada 2020 dan 2021 lalu, perayaan Imlek saat akan beribadah ada pembatasan. Mengingat, dua tahun terakhir tersebut masih terjadi pandemi Covid-19. Tahun ini, kata Hendy, warga Tionghoa di Bulungan sudah bisa beribadah dan menjalankan ritual tradisi di Klenteng. Tetap disarankan menjaga jarak dan protokol kesehatan (Prokes).
“Walaupun pandemi sudah berakhir, tapi penerapan protokol kesehatan kami utamakan. Demi kelancaran beribadah menyambut hari baik, yang peringati setahun sekali,” tuturnya.
Tahun Baru Imlek tahun ini juga merupakan Shio Kelinci. Menurut Hendy, shio ini merupakan simbol umur panjang, kedamaian dan kemakmuran. Sehingga tahun 2023 dapat diartikan sebagai tahun yang penuh harapan. Pasalnya, Kelinci memiliki kepribadian pendiam yang tersembunyi. Memiliki kepercayaan diri dan kekuatan.
Pada perayaan Imlek tahun ini, ada berbagai rangkaian kegiatan yang bakal terlaksana. “Bakal ada karnaval mobil hias lampion dan seni tari 1.000 wajah. Tahun ini akan lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” harap Hendy. (kn-2)


