Monday, 20 April, 2026

Stok Menipis, Harga Daging Sapi Masih Mahal

TARAKAN – Pasca Idulfitri sejumlah kebutuhan pokok di pasaran masih belum stabil. Dari pantauan media ini, harga cabai dan daging sapi masih terbilang tinggi.

Kontributor Pasar pada Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (DKUMP) Tarakan Muhammad Firman mengatakan, harga cabai rawit saat ini tembus Rp 120 ribu per kilogram (kg). Naiknya harga cabai masih tergolong stabil.

Berdasarkan data perkembangan harga bahan pokok pasaran yang diterima dari Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Tarakan. Harga cabai rawit per hari ini tembus Rp 120 ribu per kg. Naiknya harga cabai ini juga tidak menentu. “Harga cabai ini tidak menentu. Sebentar naik harganya sebentar turun. Nanti pagi naik harganya terus siang bisa turun,” katanya, Jumat (28/4).

Karena Tarakan masih mengandalkan permintaan cabai dari luar daerah, maka harga cabai masih tinggi. Ditambah lagi kapal pemasok cabai belum ada yang tiba di Tarakan. Jika suplai cabai banyak, maka harga cabai bisa ditekan.

“Kalau banyak datang kapal, harga cabai bisa murah. Bisa juga dari daerah pemasok yang sudah mahal. Kita memang masih mengambil cabai dari luar. Dari Palu, Enrekang dan Toli-toli,” sebutnya.

Tak hanya cabai, harga daging sapi segar masih mengalami kenaikan. Hingga saat ini harga daging sapi segar di pasaran Rp170 ribu per kg. Tingginya harga daging sapi segar karena stok daging ikut menipis. “Tapi masih ada daging beku diharga Rp 90 ribu per kg. Yang segar lebih mahal. Mungkin pedagang dapat dari luar Tarakan, makanya lebih mahal,” tuturnya.

DKUMP Tarakan belum bisa memastikan harga daging sapi bisa turun. Sebab, stok sapi yang ke Tarakan belum bisa diprediksi jumlahnya. “Kalau untuk harga bahan pokok lain seperti daging ayam, telur dan minyak masih berada pada harga normal,” ungkapnya.

Terpisah, salah seorang pedagang daging sapi segar di pasar Gusher, Amiruddin mengaku masih menjual daging sapi segar Rp 160 ribu per kg. Harga tersebut dianggap masih normal, dengan melihat kebutuhan masyarakat pasca Lebaran.

Ia menegaskan, naiknya harga daging sapi ini sulit diprediksi. Sebab stok sapi di Tarakan ikut menipis. Ditambah lagi, masuknya sapi ke Tarakan masih dilakukan karantina.

“Tapi ada saja yang beli. Namanya juga kebutuhan Lebaran. Kalau mahal-mahal begini apalagi daging sapi atau daging ayam, allhamdulillah pasti laku saja,”  singkatnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru