Monday, 27 April, 2026

Syirin Salsabila, Berprestasi di Tengah Keterbatasan Penglihatan

Kecintaan Syirin pada musik tidak pernah diprediksi orang tuanya. Maklum, tak ada satu pun dari keluarga besar Syirin yang pernah belajar alat musik. Apalagi menjadi juara menyanyi seperti dia. Terlahir dengan retinopathy of prematurity, Syirin belajar sepenuhnya lewat pendengaran saja.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

Suara merdu Syirin diiringi dengan permainan piano yang apik. Merdunya suara Syirin bahkan tak berbeda jauh dengan penyanyi favoritnya, Gita Gutawa. Bedanya, Syirin belum biasa memainkan nada setinggi Gita Gutawa. Suara Syirin juga ”empuk” dan memanjakan pendengarnya.

Berlatih menyanyi dan bermain musik sudah menjadi kebiasaan Syirin hingga sekarang. Setiap hari dia pasti mengisi waktu luang dengan latihan. Bukan untuk persiapan apa-apa. Lebih sering karena sudah capek mengerjakan tugas atau sedang bosan. “Awal suka musik kapan ya? Kayaknya waktu kelas I SD,” ucapnya.

Saat itu, Syirin diikutkan pelatihan alat musik bersama teman-temannya oleh orang tuanya. Rofi’ah, sang ibu, tak pernah berharap lebih. Dia hanya mengikutkan anaknya karena biaya pelatihan mendapat potongan jika bergabung ramai-ramai.

“Itu latihan piano. Eh, ternyata pas pulang, gurunya bilang suara Syirin ini potensial, lho,” kenang Rofi’ah.

Dia sempat tak percaya. Keluarga besar mereka bukan orang yang punya bakat di dunia musik. Menyanyi saja cempreng, apalagi menguasai alat musik seperti Syirin, menurut sang ibu.

Setelah mengetahui potensi Syirin, Rofi’ah pelan-pelan makin serius mendorong Syirin. Walau tak punya dukungan finansial di atas rata-rata, Rofi’ah memberi Syirin keleluasaan untuk berlatih sesukanya. “Sejak kecil, saya memang latih kemandirian dia,” imbuhnya.

Selama bertanggung jawab pada rutinitas dan tugas, Syirin boleh menghabiskan waktu luangnya dengan hobi apa pun.

Syirin didiagnosis menderita retinopathy of prematurity pada usia 4 bulan. Dia dilahirkan prematur dengan bobot badan tak sampai 1 kilogram. Kondisi tersebut membuat Syirin mengoptimalkan hidupnya tanpa penglihatan. “Sebagai orang tua, kami tahu nggak akan bisa selamanya sama anak. Jadi, saya latih kemandirian dia sejak dini,” papar Rofi’ah saat diwawancarai Minggu (14/8) pekan lalu.

Sehari-hari, Syirin memang melakukan kegiatannya sendiri. Kecuali, memasak. “Saya yang masak, dia tinggal ambil di meja sambil mengenali menunya ini apa,” sambung Rofi’ah, kemudian tertawa. Sisanya, Syirin sudah mampu menjalani rutinitas, bahkan saat sendirian di rumah.

Begitu pula dengan proses bermusik Syirin. Rofi’ah tak banyak ikut campur karena dirinya juga tidak jago. “Dia cari-cari sendiri video dan tutorial. Anak zaman sekarang jago mengoperasikan smartphone,” imbuh ibu satu anak itu.

Syirin mengandalkan pendengaran saja untuk mengenali nada-nada. Dia juga banyak belajar sendiri tentang teknik menyanyi lagu-lagu yang sulit. Secara teknik, Syirin tidak mengalami kesulitan. “Yang sulit itu kalau lagunya bahasa Inggris. Kata-katanya kadang susah, jadi perlu dibantu ibu,” tutur Syirin, lalu terkekeh.

Saking mandirinya, Syirin sudah bisa membeli piano dan biola sendiri. Uang yang dikumpulkan Syirin berasal dari hadiah dalam beberapa kali lomba. Pada 2019 siswa SDSLB-A itu menjuarai lomba menyanyi dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional 2019 Tingkat Kota Surabaya.

Syirin juga mengantongi juara I lomba menyanyi TKLB-SDLB dalam rangka Hari Anak Nasional ABK Jawa Timur 2020. Selain itu, Syirin berhasil meraih juara I lomba menyanyi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional 2021 Tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Tapi, pas lanjut tingkat nasional, aku dapat juara harapan III,” tutur Syirin.

Namun, Syirin tak patah semangat. Menurut dia, perlombaan cukup diisi dengan kemampuan terbaik. Sisanya, terserah rezeki. “Pokoknya turun panggung, ya sudah dilupakan saja. Nggak berharap menang atau gimana,” ucapnya.

Apakah dia pernah minder dengan kondisinya saat di panggung? Syirin mengaku tidak berpikir ke sana. Dia lebih penasaran dengan kenapa kondisi fisiknya berbeda dengan orang kebanyakan. “Ya pernah tanya ke saya. Bu, kenapa kok aku kondisinya gini? Emang dulu gimana,” ucap Rofi’ah menirukan sang anak.

Hadiah-hadiah dari beragam lomba itu ditabung hingga akhirnya Syirin bisa membeli piano dan biola sendiri. Rofi’ah mengatakan, keinginan Syirin punya alat musik sebenarnya sudah cukup lama. “Tapi, saya jujur bahwa uangnya terbatas. Jadi, dia sendiri sadar, ingin menabung nih supaya punya sendiri dan bebas latihan,” ucap perempuan yang bekerja sebagai pedagang nasi goreng itu.

Punya alat musik pribadi membuat Syirin makin produktif. Syirin juga mulai membuat video menyanyi dan bermain piano untuk YouTube pribadinya. “Aku juga mulai belajar ngedit dan remix hasilku sendiri,” ucap siswa kelas VI SD itu. Kini Syirin sudah punya setidaknya 10 karya video cover dan musik remix. (*/c7/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru