TARAKAN – Biaya angkut yang dilakukan oleh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Malundung menjadi sorotan tim Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK). Kesimpulannya, biaya bongkar muat di Tarakan lebih tinggi dibanding wilayah Kalimantan dan sekitarnya.
“Seperti Balikpapan, Samarinda dan Pulang Pisau. Ini kami lagi evaluasi, kenapa bisa terjadi seperti itu. Biaya itu awalnya kesepakatan. Jadi tarif OPP dan OPT (Ongkos Pelabuhan Muat dan Ongkos Pelabuhan Tujuan) disepakati bersama penyedia TKBM,” ujar Kepala KSOP Tarakan Mukhlish Tohepaly melalui Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut (Kasi Lala) Bernard Martin Mastua, Jumat (7/7).
Penyebab biaya logistik yang tinggi dikarenakan volume barang terlalu sedikit. Namun ia mengakui, tidak setuju juga dengan tarif yang sudah disepakati tersebut. “Tapi kami pelan-pelan berbenah secara bertahap. Kalau sudah harga disepakati, kalau untuk turun akan susah,” ujarnya.
Meski begitu, pihaknya akan menekan produktivitas biaya TKBM. Dengan cara TKBM lebih banyak lagi mengerjakan angkutan beberapa kontainer dari sebelumnya. “Atau ada biaya lain yang sifatnya lembur, akan kami lihat lebih detail lagi. Jadi setiap bulannya kami menyampaikan laporan ke tim Stranas PK,” tegasnya.
Tak hanya itu, tempat Single Truck Identification Data (STID) dan Surat Penyerahan Petikemas (SP2) online akan disediakan pihak Pelindo di Pelabuhan Malundung. Rencananya sistem tersebut akan selesai pada November mendatang.
“Jadi kami berusaha untuk memfasilitasi pemeriksaan fisik terpadu. Karena kan disini ada komiditas yang diekspor melalui Surabaya. Jadi akan diperiksa semua di pelabuhan,” ungkapnya.
Diketahui tim Stranas PK terdiri dari kementerian lembaga, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bertindak sebagai koordinator, Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian PAN RB dan Kementerian Dalam Negeri. Sebelum ke Pelabuhan Malundung ke Tarakan pada dua pekan lalu, sudah dilakukan survey juga.
Bahkan temuan lain, masih ditemukan ada truk yang bukan peruntukannya, sedang mengangkut kontainer. “Kalau truk khusus kontainer tidak mengunci semua sudut kontainer akan bahaya. Apalagi truk bukan peruntukannya memuat kontainer. Ini sifatnya lebih ke pencagahan. Cuma dipesan harus ditegur. Sampai berulang akan ditindak sampai dicabut izinnya,” bebernya. (kn-2)


