TANJUNG SELOR – Banjir yang terjadi di sejumlah desa di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan hingga kini belum surut. Pemerintah daerah, akhirnya menetapkan tanggap darurat bagi wilayah-wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara Robby Yuridi Hatman mengatakan, intensitas hujan yang tinggi di Kabupaten Nunukan dan Malinau menyebabkan beberapa desa terdampak banjir.
Pantauan BPBD Kaltara, wilayah terdampak banjir pertama kali terjadi di Nunukan. Penyebabnya curah hujan tinggi, khususnya di hulu sungai yang berada di Malaysia. Dikarenakan ada perubahan tata guna lahan.
“Banjir pertama terpantau di Nunukan, tepatnya di Kecamatan Lumbis, Lumbis Pansiangan, Sembakung Atulai dan Sembakung,” jelasnya, Jumat (22/9).
Menurut dia, dampak perubahan tata guna lahan ini menyebabkan tanah tidak dapat menyimpan air. Sehingga menyebabkan air banjir yang saat ini menuju ke Indonesia, khusus 4 kecamatan di Nunukan. BPBD telah melakukan evakuasi terhadap warga.
“Selain Nunukan, Malinau ada beberapa wilayah yang mengalami banjir hingga setinggi atap rumah warga. Salah satunya di Desa Paking,” ungkapnya.
Akibatnya, pemerintah di Kabupaten Nunukan dan Malinau menetapkan status tanggap darurat bencana. Dengan adanya 2 kabupaten ini telah mengeluarkan status tanggap darurat bencana. Pemprov Kaltara juga akan segera mengusulkan status tanggap darurat bencana.
“Kami juga mulai hari ini (kemarin, Red) mengirimkan satgas dan bantuan logistik serta peralatan ke Sembakung dan Malinau,” kata dia.
Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kaltara Rony Haryanto menambahkan, data sementara yang terhimpun dari Nunukan dampak banjir terjadi di 38 desa, 1.562 unit rumah dan 2.313 kepala keluarga (KK).
“Jumlah jiwa terdampak sebanyak 7.436 orang dengan 17 pengungsi di Lumbis Pansiangan. Sedangkan di Malinau belum terdata dan masih menunggu dari BPBD Malinau,” singkatnya. (kn-2)


