Monday, 25 May, 2026

Thet Htar Thuzar Sendirian Mengibarkan Bendera Myanmar di Badminton Dunia

Dengan anggaran terbatas, tanpa pelatih, dan sulit mencari lawan tanding, Thet Htar Thuzar tetap bisa menaikkan peringkatnya secara perlahan. Merasa punya banyak teman di seluruh dunia.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

GELAR-GELARNYA dimenanginya di negeri-negeri ”antah-berantah” di jagat badminton. Semuanya di Afrika dan di strata terbawah tur dunia BWF (Federasi Badminton Dunia): dari Mesir, Mauritius, Uganda, Benin, Kenya, sampai Pantai Gading.

Bagi Thet Htar Thuzar, itulah bagian dari jalan ninjanya untuk terus menapaki karier di bulu tangkis. Datang dari Myanmar, negeri yang belum punya prestasi di badminton, dia harus mengambil jalan memutar melewati turnamen-turnamen minor.

Sebab, persaingan di level atas tur dunia sangatlah berat. Meski, bukan berarti dia tidak mencobanya. Indonesia Open 2023 yang sedang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, misalnya, termasuk yang dia jajal.

Menghadapi Wang Zhi Yi yang berada di posisi ke-7, Thet yang saat ini menduduki peringkat ke-57 akhirnya harus menyerah. “Ya, sebenarnya hari ini (kemarin, Red) saya berharap bermain lebih baik. Tapi, tidak apa-apa, lawan bermain sangat baik,” ujar pemain kelahiran 15 Maret 1999 tersebut kepada Jawa Pos seusai laga melawan Wang Zhi Yi, Rabu (14/6).

Pengoleksi lima gelar strata international series tersebut bisa dibilang sendirian mengibarkan bendera Myanmar di kancah bulu tangkis dunia. Mengikuti turnamen ke mana-mana tanpa didampingi pelatih dengan biaya yang diusahakan sendiri. Sebab, satu-satunya sponsor hanyalah apparel yang terpampang di jersey-nya.

Latihan menjelang tampil pun harus nebeng dengan pemain lain. Di Indonesia Open, dia berlatih bersama pemain Kanada Michelle Li yang didampingi sang pelatih, Kan Chou Yu. Bahkan, mencari sparring partner di negeri sendiri pun sulit. “Kami tak punya tim nasional senior,” ungkapnya.

Jadilah dia lebih sering berlatih dengan sang ayah. Terkadang saja dia menguji kemampuan melawan sesama pemain di Myanmar.

Namun, semua kesulitan itu tak mengendurkan semangatnya. Dia rutin mengikuti turnamen level super 300 meski capaian terbaiknya pada tahun ini baru sampai babak 16 besar di Orleans Masters, Prancis.

Toh, kegigihannya tetap berbuah. Peringkatnya yang di masa banyak turnamen dihentikan akibat pandemi melorot ke posisi ke-70 kini sudah membaik 13 setrip. Ranking terbaiknya di posisi ke-54 dicatat pada April lalu.

Badminton menghampiri juara Egypt International 2018 dan 2019 tersebut lewat orang tuanya yang merupakan mantan pemain. Sang ayah bahkan berlanjut menjadi pelatih setelah gantung raket. “Karena ayah sayalah, saya ingin bermain badminton. Ayah juga jadi pelatih saya,” tuturnya.

Saat ini dia mengakui bahwa Myanmar masih kalah jauh dari para jiran di Asia Tenggara. Namun, Thet yakin kondisi itu berubah pada tahun-tahun mendatang. Sebab, saat ini kian banyak anak di kampung halamannya yang menggeluti bulu tangkis. Kian mudahnya tontonan badminton diakses lewat berbagai platform juga turut membantu. “Saya yakin bakal lahir pemain hebat dari Myanmar,” tegasnya.

Untuk dirinya sendiri, target terbesarnya kini hanya ingin kembali tampil di Olimpiade. “Saya ingin bermain sebaik mungkin supaya bisa qualified,” ujarnya.

Thet merupakan pebulu tangkis pertama dari Myanmar yang bisa tembus ke Olimpiade, persisnya di Olimpiade 2020 Tokyo. Saat itu dia berada di kualifikasi grup M bersama andalan Indonesia Gregoria Mariska Tunjung dan pebulu tangkis Belgia Lianne Tan.

Sayangnya, di dua laga itu dia takluk dan membuat langkahnya terhenti. Namun, tetap saja menjadi pebulu tangkis pertama dari negaranya yang bisa bermain di ajang multiolahraga terbesar di dunia tersebut membahagiakannya.

“Bagi saya, pelajaran penting dari badminton adalah, jika gagal, Anda hanya perlu mencobanya lagi dan lagi,” tuturnya.

Masih panjang dan berliku jalan yang harus dilalui Thet untuk bisa sampai di Olimpiade 2024 Paris. Tapi, yang jelas, dia tidak akan kekurangan dukungan.

Di Istora Senayan pun banyak yang menyapa dia. Di SEA Games lalu, saat membawa Myanmar merebut perak mixed team, nama Thet juga sempat melambung. Itulah yang membuat perempuan 24 tahun tersebut tetap bisa tersenyum meski langkahnya terhenti di Istora. “Saya selalu berterima kasih kepada penonton. Mereka selalu mendukung saya. Saya punya banyak teman di seluruh dunia,” tuturnya. (*/c14/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru