TARAKAN – Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Kanwil Kaltim menyediakan wadah khusus untuk klien permasyarakatan atau warga binaan, yang telah menyelesaikan masa hukumannya.
Wadah ini berupa pembinaan untuk penyediaan usaha. Dalam penyediaan usaha ini, pihak Balai Permasyarakatan (Bapas) Kelas II Tarakan telah melakukan kerja sama langsung dengan dinas terkait. Seperti Dinas Pertanian, Dinas Perikanan maupun dari yayasan-yayasan guna memupuk kreatifitas klien pemasyarakatan.
Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Kanwil Kaltim, Jumadi mengatakan, dari serangkaian proses pembukaan lapangan usaha untuk klien permasyarakatan ini sudah cukup baik. Hasilnya dapat dilihat dari beberapa kali panen untuk budidaya ikan, ayam maupun tanaman.
“Ini adalah awal kita bentuk. Dengan adanya kegiatan positif ini, harapan kami dapat mendorong teman-teman yang di luar. Baik perorangan maupun kelompok atau yayasan lainnya,” tuturnya, Kamis (13/4).
Hal ini pun sebagai bentuk prestasi dari Bapas Kelas II Tarakan, yang mampu menciptakan geliat lapangan kerja bagi eks tahanan. Terlebih Griya Abhipraya ini terbentuk pertama di lingkungan Kemenkumham Kanwil Kaltim. “Yang di Kaltim ini sedang dan baru akan mulai. Masih duluan di Tarakan,” ungkapnya.
Tak hanya pembinaan, Bapas Kelas II Tarakan telah menyediakan rumah singgah yang diperuntukkan bagi mantan warga binaan yang tak memiliki rumah. Ia melanjutkan Bapas Tarakan dapat memberikan saran atau rekomendasi ke Lapas Tarakan, guna menempatkan warga binaan dalam pembinaan selama masa tahanan.
Jadi proses pembinaan dimulai dari Lapas. Nanti Bapas yang buat asesmen. “Ini warga binaan cocoknya dimana. Apakah di pertanian atau perikanan, itu nanti Bapas yang buat laporan dan diserahkan ke Lapas terkait pola pembinaan di dalam Lapas,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bapas Kelas II Tarakan Andik Dwi Saputro menyebut, ada 10 anggota kelompok pemerhati masyarakat (Pokmas). Saat inipun sudah terdapat beberapa pihak yang memiliki perjanjian pembinaan dengan Bapas. Seperti Dinas Perikanan Tarakan dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Tarakan.
“Wujudnya ada budidaya lele dan hydroponic. Jadi Dinas Pertanian ini menjebatani kami dengan kelompok tani wanita yang nantinya akan langsung ke Pokmas,” ujarnya.
Jumlah klien yang mengikuti pembinaan di Bapas Kelas II Tarakan, dalam satu paket berisi 20 orang. Namun untuk pembinaan usaha terdapat dua penjaga kandang ayam dan dua orang pembudidaya lele dan hydroponic.
“Jadi ini yang pembudidaya lele dan hydroponic berasal dari warga binaan asimilasi,” tegasnya. (kn-2)


