Ada beragam cara positif untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Kesempatan ini juga berlaku bagi warga binaan di Lapas Kelas IIA Balikpapan.
MASA lalu ditinggalkan jauh-jauh. Sejumlah warga binaan bersungguh-sungguh belajar Al-Qur’an, dan kini bisa menjadi guru bagi warga binaan lainnya.
Proses wisuda juga disaksikan perwakilan keluarga masing-masing. Sekaligus kesempatan langka karena mengingat masih dalam masa pandemi. Ketua DKM Babut Taubah Lapas Kelas IIA Balikpapan Slamet Riyadi mengatakan, kegiatan ini bagian dari program pembinaan kepribadian khususnya kerohanian.
Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Klas IIA Balikpapan ini bercerita, lapas bukan hanya tempat untuk memenjarakan seseorang. Namun, warga binaan harus memiliki bekal dan berubah saat kembali ke masyarakat. Salah satu caranya dengan memberikan program belajar Al-Qur’an.
Kegiatan ini berangkat dari survei kemampuan membaca Al-Qur’an bagi seluruh warga binaan di Lapas Balikpapan. Hasilnya 78 persen dari total 1.200 warga binaan, mereka beragama Islam dan belum bisa membaca Al-Qur’an.
Lapas Balikpapan membuat program dengan konsep ‘berbagi sesama’ yang berjalan sejak 2019. Warga binaan yang sudah bisa membaca Al-Qur’an diarahkan dapat mengajar kepada rekan yang belum bisa membaca. “Kami membuat istilah kamar santri, dan ada pembelajaran berjenjang,” sebutnya.
Sebelum bisa menjadi guru ngaji, mereka harus menjadi santri dan menjalani proses pendidikan. Ada enam level pembelajaran tahsin, setiap level memiliki ujian kenaikan tingkat. “Mereka diberitahu bagaimana cara bacaan yang benar, tajwid, intonasi, dan sebagainya,” tuturnya.
Setelah berhasil melalui pembelajaran, mereka menjalani wisuda dan bisa menjadi guru bagi warga binaan lain. Pihaknya menyatukan pembinaan dalam lapas dan dakwah. Sebuah sistem yang mengarahkan dan membimbing warga binaan ke arah lebih baik melalui konsep dakwah.
Slamet ingin warga binaan nanti tidak hanya keluar dengan surat bebas. Namun, bisa memiliki sertifikat bisa mengajarkan Al-Qur’an.
Sehingga, mereka bisa bermanfaat bagi orang lain. DKM Babut Taubah dibantu oleh Yayasan Al-Haqq Indonesia dalam menjalankan program tersebut. Mereka mengajar dengan metode tahsin LTQQ Al-Haqq. Pembelajaran dibagi menjadi tiga kelas berdasarkan kemampuan dan pemahaman tajwid masing-masing.
“Semoga Lapas Balikpapan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain. Kami ingin membawa konsep kalau lapas bukan tempat yang seram, tapi di sini lapas semacam pondok pesantren,” ungkapnya. Sejak awal program berlangsung sudah dua kali wisuda dan pencapaian sangat baik.
Angka buta aksara Al-Qur’an menurun drastis. Kini, hanya menjadi 8 persen. Semula hanya ada 225 warga binaan yang bisa membaca Al-Qur’an, kini sudah menjadi 1.000 warga binaan. Dia mengucapkan terima kasih kepada Kepala Lapas Kelas IIA Balikpapan yang telah mendukung program tersebut.
“Kami juga mengundang perwakilan keluarga dalam kegiatan ini agar bisa memberikan dukungan kepada warga binaan,” ujarnya. Saat ini, mereka yang menjadi guru juga sekaligus tahfiz. Ada yang sudah menghafal hingga 27 juz. (ms/k15/kpg)


