TANJUNG SELOR – Permintaan akan kebutuhan cabai di Bulungan belum bisa menjamin tercukupi oleh pasar. Hal itu pun berdampak terhadap harga yang naik, ketika produksi yang dihasilkan petani sangat terbatas.
Namun, persoalan kebutuhan cabai ini bukan hal baru. Masih sering terjadi di saat momentum tertentu, yang membuat harga cabai bisa naik dan turun. Dalam sebulan terakhir ini, harga cabai di Pasar Induk Tanjung Selor merangkak naik. Harga cabai lokal saat ini berkisar Rp 100 ribu-Rp 120 ribu per kilogram (kg). Sebelumnya seharga Rp 50 ribu-Rp 85 ribu per kg.
Sementara untuk cabai yang didatangkan dari luar Bulungan dipatok seharga Rp 85 ribu- Rp 100 ribu per kg. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMPP) Bulungan Zakaria meminta jajarannya untuk mengecek di lapangan. Mengingat, tidak lama lagi akan memasuki bulan suci Ramadan.
“Apalagi penyuplai kebutuhan pokok di Bulungan masih ketergantungan dari daerah lain. Seperti dari pulau Jawa dan daerah lain di Kalimantan Timur,” ujarnya, kemarin (13/3).
Apabila pengiriman lancar, menurut Zakaria, tidak ada masalah. Namun, sebaliknya, jika pengiriman terhambat hal itupun berdampak terhadap harga cabai tersebut.
“Dalam waktu dekat akan dilakukan sidak pasar, untuk mengetahui penyebab. Jika persoalan pada distribusi, kita juga tidak bisa paksa. Karena pengiriman cabai itu dari luar daerah,” tuturnya.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Induk, Risna mengakui, harga cabai lokal berbeda dengan dari luar daerah. Pembeli malah memilih mencari kualitas baik, meskipun mahal. Rata-rata cabai yang dijual Risna didatangkan dari KM 50, perbatasan antara Bulungan-Berau.
“Kalau cabai lokal ini masih segar-segar. Karena, biasanya setelah dipetik langsung diantarkan ke kita untuk dijualkan,” ucapnya.
Harga jual oleh pedagang, tergantung dari petani cabai. Perempuan berhijab ini menambahkan, dalam sehari bisa menjual 20-15 kg. Namun, semua itu tidak menentu, tergantung dari meningkatnya jumlah pengunjung.
“Harga jual mungkin berbeda-beda. Tergantung dimana dan sama siapa mengambilnya. Kalau permintaan naik, maka pengambilan ke para petani ikut ditambahkan,” tuturnya. (kn-2)


