Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN) Surabaya Raya memiliki cara tersendiri untuk melestarikan budaya. Salah satunya, budaya mengenakan pakaian tradisional bagi para perempuan. Pada Minggu (2/10) lalu, mereka mengadakan acara belajar bersama memakai sanggul dan kebaya di car free day (CFD) Taman Bungkul.
DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya
SEJAK Minggu (2/10) pukul 05.40 WIB, beberapa perempuan tampak berseliweran memakai kebaya dan sanggul di Taman Bungkul. Mereka berjalan perlahan. Sesekali, ada yang memastikan riasan di wajahnya tidak luntur dengan menyalakan kamera handphone.
Semakin siang, makin ramai perempuan berkebaya dan bersanggul yang datang.Para perempuan itu tidak sedang menghadiri acara pernikahan.
Mereka tengah berkampanye kegiatan bersanggul dan berkebaya bersama. Acara yang digagas PBN Surabaya Raya itu berhasil menyedot perhatian warga di CFD Taman Bungkul.
Sekretaris PBN Surabaya Raya Diyah Lensana menyebutkan, ada 46 anggota PBN yang hadir. Mereka tidak hanya berasal dari Surabaya. Namun, ada juga dari Mojekerto dan Tulungagung. “Dari Mojokerto, ada tiga orang dan delapan orang dari Tulungagung. Lalu, dari Surabaya Raya ada 35 orang,” jelasnya.
Selama lebih dari dua jam, para anggota PBN mengampanyekan bersanggul dan berkebaya di hadapan masyarakat. Mereka mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dalam cara memakai sanggul cepol yang mudah. Termasuk mengenakan kain untuk udeng bagi laki-laki.
Tidak hanya berkampanye, mereka juga unjuk hasil dandan. Suara gemuruh tepuk tangan terdengar ketika setiap anggota PBN berjalan berlenggak-lenggok di red carpet untuk fashion show. Liukan tangan yang memainkan kain Nusantara berhasil memikat warga.
Menurut Diyah, PBN kali pertama terbentuk pada 2020. Tujuannya, memperkenalkan budaya asli Nusantara kepada generasi muda. Yang jelas, syarat bergabung dengan PBN adalah mau bersanggul dan berkebaya. Tidak dipungut biaya untuk menjadi anggota.
Selain itu, Diyah menyatakan bahwa PBN tidak membatasi usia anggota. Siapa pun boleh ikut bergabung. Selain di Surabaya Raya, PBN ada di beberapa kota lain. Misalnya, di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi.
Meski berbeda lokasi, semangat mereka sama. Yakni, melestarikan sanggul dan kebaya sebagai jati diri perempuan Indonesia.
Sampai saat ini, PBN tersebar di 18 kota dan 2 benua. Di Eropa dan Australia. “Kegiatan di CFD Taman Bungkul itu kali pertama digelar PBN Surabaya Raya. Di luar kegiatan rutin komunitas, ya,” jelas Diyah.
Latar belakang anggota PBN beragam. Ada yang ibu rumah tangga, pebisnis katering, hingga pemimpin perusahaan. Diyah mengungkapkan, pihaknya tidak mempermasalahkan latar belakang.
Untuk memasifkan kampanye berkebaya dan bersanggul hingga ke anak muda, PBN juga membentuk khusus PBN Milenial. “Karena yang milenial baru terbentuk juga, ya. Jadi, anggotanya belum banyak seperti yang dewasa,” katanya.
Supaya tidak bosan berkampanye, PBN Surabaya Raya sesekali healing. Mereka berkunjung ke berbagai wisata candi di Indonesia. Sekaligus mengenal kain-kain tradisional di Nusantara. Diyah berharap banyak perempuan yang bergabung ke PBN untuk bersama-sama melestarikan kebudayaan Indonesia. (*/c14/may/jpg)


