Pandemi membuat UMKM mati. Untuk membangkitkan pengusaha, Kecamatan Asemrowo menggelar kegiatan Jelajahi (Jeli) UMKM. PNS, kader kesehatan, anggota komunitas, dan pengurus RT/RW diajak keliling permukiman untuk berburu produk UMKM dan hadiah.
EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya
MATAHARI belum muncul. Namun, puluhan orang yang terdiri atas kader kesehatan, komunitas, ASN, dan pengurus RTW/RW di wilayah Asemrowo sudah semangat untuk berkumpul. Mereka berbaris rapi di lapangan Kelurahan Asemrowo Sabtu (12/3) pagi.
Seluruhnya tampak sudah siap. Ada yang membawa tas plastik di sakunya. Ada pula yang membawa tas besar untuk menyimpan makanan dari hasil petualangan.
“Ayo, sat set wis… Ojo lali diborong,” ungkap Camat Asemrowo Bambang Udi Ukoro sambil memberangkatkan peserta Jeli UMKM.
Pria itu tak sendirian. Ada Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan Afghani Wardhana yang penasaran dan menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Ini menarik karena ada unsur sehat dan kebangkitan ekonomi,” kata Afghani. Tak mau ketinggalan dengan peserta lain, mantan kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya itu juga ikut petualangan. Dia berbelanja produk UMKM di Asemrowo.
Kegiatan Jeli UMKM di Kelurahan Asemrowo merupakan edisi kedua. Sepekan sebelumnya, kegiatan tersebut digelar di Kelurahan Tambak Sarioso. Jelajahi UMKM selanjutnya diadakan di Kelurahan Genting Kalianak.
Program Jeli UMKM tidak ujuk-ujuk muncul. Kegiatan itu digelar untuk meramaikan bulan padat karya. Adapun yang terlibat dalam kegiatan tersebut cukup banyak. Kecamatan juga mengundang para pekerja formal di wilayah Asemrowo untuk bergabung.
Jawa Pos menyempatkan untuk ikut penjelajahan. Awalnya, ratusan peserta dibagi menjadi sejumlah kelompok. Kelompok tersebut lantas diberangkatkan secara bergantian.
Seluruh peserta harus berjalan kaki mengikuti rute yang telah ditentukan panitia. Ada lima pos yang harus didatangi. Masing-masing pos dijaga pelaku UMKM yang menjual produknya.
Pemenang ditentukan dari keberhasilannya mengumpulkan kata Andalan, Santun, Inovatif, dan Kreatif. Kata ASIK merupakan jargon Kecamatan Asemrowo.
Untuk menemukan kata-kata tersebut, peserta penjelajahan harus mengumpulkan kupon. Kupon itu baru bisa didapat setelah membeli produk UMKM. “Saya mendapat banyak kupon. Tapi, kata-katanya tidak ada yang masuk jargon. Apes,” ungkap Widodo, salah seorang peserta.
Pos pertama berada di Kantor Kelurahan Asemrowo. Ada sejumlah penjual jajanan tradisional yang membuka lapak di lokasi tersebut. Jajanan ludes dalam waktu 15 menit.
“Tentunya, program ini sangat membantu. Dagangan saya habis,” kata Isti Utami.
Dia mengatakan bahwa ada 120 jajanan yang dibeli peserta dalam waktu 15 menit. Mulai sosis, lemper, kue bolu, hingga jajanan tradisional lainnya.
Menurut Isti, selama pandemi pendapatannya turun drastis. Bahkan, penurunan mencapai 50 persen. Pesanan sepi karena hajatan dilarang.
Oleh karena itu, dia mengaku senang dengan adanya Jeli UMKM. Sebab, tidak sekadar berjualan. Kegiatan tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk promosi. “Tadi juga sudah ada yang memesan untuk acara,” jelas Isti. (*/c6/git/jpg)


