TANJUNG SELOR – Sebagian masyarakat mungkin belum memahami bahwa pelepah pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan.
Saat ini, produk kerajinan menggunakan pelepah pisang sedang naik daun. Hal itu disampaikan Pemateri pelatihan diversifikasi produk anyaman Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta Zuriya. Dengan adanya pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi, menjadi salah satu faktornya. Dimana muncul inovasi-inovasi baru dari para pengrajin.
“Semenjak pandemi, banyak orang di rumah. Sehingga menimbulkan inovasi-inovasi baru, salah satunya kreasi membuat pot, keranjang buah, tas dari pelepah pisang,” ujar Zuriya, belum lama ini.
Khusus di Yogyakarta, menurut Zuriya, pengrajin kebanjiran pesanan produk pelepah pisang untuk hampers (keranjang anyaman untuk wadah pemberian) dari luar negeri. Sementara ini, produk yang dikombinasikan dengan serat lain juga tinggi peminat.
Kendati demikian, siklus kerajinan pelepah pisang telah memiliki sistem yang baik. Dimana tahap produksi dilaksanakan terpisah oleh pihak berbeda. Mulai dari penyediaan bahan baku mentah, bahan baku setengah jadi hingga produk jadi.
Secara umum, lanjut Zuriya, proses produksi kerajinan ini dimulai dengan memisahkan pelepah dari batang pisang. Kemudian dicuci bersih dan dikeringkan seperti menjemur pakaian selama tujuh hari. “Jangan taruh di bawah, karena nanti kena kotoran,” ungkapnya.
Selanjutnya, pelepah pisang yang telah kering dapat dikemas dalam bentuk lembaran atau tali. Jika dalam bentuk tali, maka pelepah pisang kemudian dipilin. Kemudian, bahan baku siap digunakan membuat berbagai jenis kerajinan. “Kalau membuat kerajinannya banyak yang tak sampai sehari,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan pemateri lainnya Nova Retnawati. Diakui, 80 persen kegiatan produksi pengrajin memang berasal dari pesanan konsumen. Kecuali jika pengrajin mampu menciptakan tren sendiri dan diminati pasar.
“Kalau memang paham tren atau bisa menciptakan tren sendiri. Tapi kalau tidak, 80 persen (kegiatan produksi) itu dari order,” kata Nova.
Nova menilai, penting bagi calon pengrajin menguasai teknik pembuatan dari bahan baku pelepah pisang. Ketika ilmu itu sudah dikuasai, otomatis dapat memenuhi ragam permintaan konsumen. Ia membenarkan jika pada umumnya proses dari awal hingga akhir, tidak bisa dikerjakan sekaligus oleh satu pengrajin.
Ada mata rantai yang seyogianya bisa terwujud di bidang ini. Yakni dari penyedia bahan baku mentah, setengah jadi hingga terwujud produk. Namun, dengan fakta di lapangan soal masih minimnya jumlah sumber daya manusia (SDM) di Kaltara. Ia berpesan agar pengrajin mempelajari ilmu manajemen terlebih dahulu. Penting untuk bisa menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), agar dapat keuntungan. (kn-2)


