Tuesday, 23 June, 2026

Sri Supartini, Besarkan Lima Anak Sendirian sampai Berusia 100 Tahun

Sri Supartini menganggap usia hanyalah angka. Namun, peran ibu sebagai tiang utama keluarga harus tetap dijalankan. Meski sudah berusia 100 tahun, nasihat dan wejangan tidak bosan dia tuturkan untuk kelima anaknya yang sudah berusia 70, 60, dan 50 tahun.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

KOK bisa sampai usia 100 tahun? Apa rahasianya? “Yo iso wong dilumpukno (Ya bisa, dikumpulkan),” kelakar Sri Supartini ketika tim Jawa Pos berkunjung ke rumahnya di gang kecil Pucang Anom, Kelurahan Pucang Sewu, Kecamatan Gubeng, Selasa (20/12).

Seisi ruangan pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban kocak Sri Supartini yang sudah berusia satu abad. “Aku dewe yo gumun, kok iso akeh umurku (Saya sendiri juga heran, kok bisa banyak umurku),” lanjut Mbah Sani, sapaan akrab Sri Supartini.

Sani merupakan nama kecilnya. Berasal dari nama Saniyem. Perempuan yang lahir di Blitar pada 1922 itu dulunya seorang guru. Sani muda mengajar di Sekolah Rakyat (SR). Sejak dulu, Sani memang suka bercanda. Kadang sering bertanya hal yang sama berkali-kali. Juga, menyampaikan hal yang sama berkali-kali.

Tidak ada rahasia khusus agar panjang umur. Kuncinya, kata Sani, jangan banyak beban pikiran. Yang berat tidak usah dipikir. Lupakan. Untuk urusan makan, Sani mengaku tidak pernah pilih-pilih makanan apa pun. Tidak rewel juga. Apa saja dimakan. Yang penting tidak pedas. Yang menjadi makanan favorit adalah soto.

Meski sudah berusia satu abad, Sani tidak memiliki penyakit yang aneh-aneh. Gula maupun tekanan darahnya normal. Hanya, pendengarannya kurang bagus karena faktor usia. Sani juga kadang lupa-lupa ingat. Jalannya memang sedikit membungkuk. Tapi, kakinya masih kuat menopang badan.

Di Pucang Anom, Sani tinggal bersama anak bungsunya, Martha Silvana. Empat anak yang lain sudah memiliki rumah dan keluarga sendiri. Tepat 30 Juni lalu, kelima anak, cucu, dan cicitnya berkumpul. Lagu panjang umur dinyanyikan sebagai doa agar sang ibu, nenek, sekaligus buyut selalu diberi kesehatan dan tetap ceria seperti biasa.

Martha mengakui, ibunya merupakan sosok perempuan yang luar biasa. Bukan hanya karena usianya yang bisa sampai 100 tahun. Melainkan juga sang ibu mampu mendidik dan membesarkan lima anak seorang diri. “Ditinggal bapak sejak 1960-an. Bapak dulu kerja di dispen (dinas penerangan, Red),” kata perempuan 54 tahun tersebut.

Sejak saat itu, Sani harus banting tulang sendirian untuk menghidupi kelima anaknya. Sani harus menempuh perjalanan satu jam lebih ke Sidoarjo menggunakan angkot untuk kulakan kerupuk udang. Dari Sidoarjo, Sani membawa setumpuk kerupuk untuk dijual di Surabaya.

Martha mengatakan, apa saja dikerjakan ibunya agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain berjualan kerupuk, Sani kerap dimintai tolong orang atau tetangga untuk mengurusi barang gadaian. Istilahnya, pesuruh gadai. Jadi, ketika ada orang yang hendak menggadaikan barang, Sani menjadi perantara ke pegadaian.

Pada 1980-an, anak pertama yang bernama Lusia Kuntaryati lulus SMA dan bekerja sebagai tenaga administrasi di salah satu sekolah Katolik. Anak keduanya, Dwi Kuntowati, diterima sebagai anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Sejak saat itulah, Sani diminta berhenti bekerja oleh anak-anaknya. Kebutuhan sehari-hari dicukupi anak-anaknya.

Satu nasihat selalu diulang-ulang oleh Sani untuk anak-anaknya. Yakni, harus jujur dalam hal apa pun. Sebab, kejujuran memunculkan kepercayaan. Dan, kepercayaan itu mahal harganya. “Arep lapo ae, kudu jujur (Mau melakukan apa saja, harus jujur),” kata Sani.

Kini, Sani sedang menikmati menua bersama-sama dengan anak-anaknya yang tidak lagi muda. (adi/c7/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru